Malang (beritajatim.com) – Universitas Brawijaya (UB) kini memiliki Guru Besar pertama dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH). Prof. Dr. Dra. Herawati, M.P. dikukuhkan pada Minggu (17/6/2024) di Samantha Krida menjadi Profesor aktif ke 1 di FKH.
Prof Hera, sapannya menyampaikan pidato pengukuhan berjudul ‘Jakute sebagai Additive Pakan Pengganti Antibiotic Growth Promoter dengan Docking Molekuler untuk Meningkatkan Kesehatan Unggas,’. Ia dikukuhkan sebagai profesor bidang ilmu nutrisi hewan.
Profesor aktif ke 220 di UB ini menyampaikan, Jakute menjadi satu alternatif atas dilarangnya penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) pada unggas yang sudah dilarang oleh pemerintahan. Pelarangan penggunaan AGP pada unggas sendiri telah tercantum dalam Undang-Undang No. 18/2009 juncto Undang-Undang No.41/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan dan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 14/PERMENTAN/PK. 350/5/2017.
Dijelaskannya, bahwa AGP menjadi antibiotik bahan tambahan pakan (feed additive) yang untuk unggas dalam memperbaiki efisiensi pakan dan menurunkan mortalitas. Penggunaan antibiotik dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan resistensi bakteri seperti Escherichia coli dan Salmonella Sp.
“Jahe merah, kunyit, dan temulawak itu jenis tanaman yang banyak kita temukan di Indonesia. Tanaman itu punya banyak, seperti sifat antioksidan, anti inflamasi, dan imunomodulator. Jakute sebagai additive pakan pengganti AGP dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan kesehatan unggas,” ungkap Prof Hera saat jumpa pers, Jumat (15/3/2024).
Jakute ini menjadi alternatif memecahkan pelarangan penggunaan AGP itu. Jakute dimanfaatkan sebagai pakan tambahan pada unggas. Jakute bermanfaat dalam meningkatkan imunitas dan produktivitas unggas, termasuk juga meminimalisir mortalitas pada unggas.
“Kandungan dalam Jakute sudah diuji melalui metode docking molekuler. Pengujian in silico dengan metode itu, guna mengidentifikasi potensi zat aktif dari jahe merah, kunyit dan temulawak guna potensinya sebagai imunomodulator,” ucapnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa zat aktif yakni, gingerol-6, shogaol-6, curcumin, demetoksicurcumin, tetrahidrocurcumin, bisdemeteoksicurcumin terdapat pada jahe merah, kunyit, dan temulawak. Zat tersebut berinteraksi selama proses docking molekuler sehingga salah satu potensi Jakute bersifat sebagai imunomodulator.
“Imunomodulator dapat digunakan sebagai bahan tambahan pakan unggas dan sebagai alternatif pengganti AGP. Keunggulan dari Docking molekuler antara lain untuk mengevaluasi efek dari kombinasi Jakute ke dalam pakan unggas sebagai imunomodulator,” lanjutnya.
Profesor ke 384 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh UB ini menilai, imunomodulator punya manfaat penting. Diantaranya, zat yang terkandung dalam kombinasi serbuk laos, kencur, atau jenis tanaman obat lain sebagai pengganti AGP untuk meningkatkan kesehatan unggas.
Sementara itu, kelemahan dari Docking molekuler harus menggabungkan berbagai jenis makromolekul yang terlibat dalam proses inflamasi. Oleh sebab itu, penting menganalisis perbandingan antara obat antiinflamasi dan ligan kompetitor, seperti kurkumin demetoksikurkumin dan bisdemetoksikurkumin yang ditemukan dalam kombinasi Jakute.
Menurut Prof Hera, pnggunaan senyawa Jakute sebagai pengganti AGP dalam pakan unggas sebagai imunomodulator tidak menimbulkan residu pada daging unggas. Daya tahan unggas lebih tinggi, lebih sehat dan dapat juga berpengaruh pada penggemukan dengan mortalitas lebih rendah.
“Kombinasi serbuk Jakute yang dicampurkan dalam pakan unggas berperan sebagai agen imunomodulator atau agen preventif terhadap infeksi bakteri dan kandidat alternatif pengganti AGP. Persentase campuran Jalute dengan besaran mulai 5 persen, 10 persen, dan bisa 20 persen,” katanya.
Penerapan Jakute tidak perlu diolah lagi hanya perlu dijadikan serbuk. “Serbuk itu kemudian dapat dicampur dengan pakan dengan takaran yang disesuaikan jumlah pakan,” ujar Prof Hera menutup. (dan/ian)






