Gresik (beritajatim.com) – Masyarakat Gresik sudah lama mengenal dokar. Yakni transportasi tradisional roda tiga yang ditarik oleh kuda. Transportasi itu biasanya marak saat libur lebaran atau menjelang Hari Raya Ketupat. Di setiap sudut jalan raya banyak warga memanfaatkan moment itu beserta keluarga untuk berkeliling kota.
Masyarakat Gresik menyebut tradisi itu dengan nama ‘dokaran’. Konon tradisi ini sudah berjalan lama. Kendati sempat berhenti saat pandemi covid-19. Bagi penjual jasa tersebut, keberadaan dokaran sangat menguntungkan. Warga yang naik ditarik tarif Rp 15 ribu per orang.
Dari pantauan di lapangan, sebagian besar warga yang naik dokar didominasi oleh kalangan keluarga dan anak-anak. Dari hasil ini para kusir dokar bisa meraup keuntungan Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari.
BACA JUGA:
Tradisi Malam Selawe di Gresik dan Geliat UMKM
Salah satu kusir dokar, Saini (51) asal Kebomas, Gresik menuturkan, dirinya sangat terbantu adanya tradisi tersebut. Pasalnya, sejak siang hari hingga sore penumpangnya banyak sekali, meski cuma berkeliling kota.
“Berangkatnya dari Alun-alun Kota Gresik, lalu ke Jalan Veteran Wisma Ahmad Yani kemudian kembali lagi. Ada juga penumpang yang meminta ke rute lain melintasi Bandar Grisse dan daerah lainnya. Tapi kembalinya tetap di alun-alun,” tuturnya, Selasa (25/4/2023).
Bagi Saini tradisi dokaran bisa jadi merupakan lebaran para kusir. Ini karena sebagian besar rekan seprofesinya dicarter oleh warga sambil menikmati suasana sore hari Kota Gresik. “Disyukuri saja hasil dari ini. Bisa membantu kebutuhan sehari-hari setelah dikurangi beli pakan kuda,” ungkap Saini.
BACA JUGA:
Tradisi Kolak Ayam Warisan Budaya Tak Benda Asal Gresik
Saini mengaku dirinya sudah menjadi kusir dokar sejak1998 atau 25 tahun lalu. Profesi sebagai kusir warisan dari orangtuanya. Usai libur lebaran dirinya kembali mangkal di makam Sunan Giri melayani para peziarah dari berbagai daerah.
“Kalau lebaran kami mangkal di alun-alun. Setelah itu kembali ke tempat semula melayani peziarah dari terminal bus ke makam Sunan Giri,” paparnya.
Sementara itu, salah satu penumpang yang memanfaatkan wisata dokaran Aziz (38) asal Kelurahan Karangturi, Kecamatan Gresik menyatakan, dirinya bersama keluarga kecilnya menyewa satu dokar untuk keliling Kota Gresik.
“Tradisi ini sudah ada sejak saya kecil. Biasanya kami menyewa buat keluarga berwisata sambil bersilaturrahni bersama sanak keluarga,” pungkasnya. [dny/suf]






