Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah ancaman abrasi dan perubahan iklim yang menghantui kawasan pesisir, sebuah narasi baru tentang kemandirian ekonomi mulai berakar di Surabaya. Melalui inisiatif berkelanjutan bertajuk “Menanam Harapan Menjaga Keberlanjutan”, Terminal Petikemas Surabaya (TPS) sukses mengintegrasikan pemulihan ekosistem dengan penguatan ekonomi kerakyatan melalui pembibitan 10.000 mangrove jenis Rhizophora mucronata.
Program ini menggandeng Kelompok Petani Mangrove Kompak Mandiri Lestari sebagai mitra strategis. Bagi para petani dan nelayan setempat, kolaborasi ini menjadi oase di tengah ketidakpastian pendapatan akibat cuaca ekstrem. Mereka kini terlibat aktif dalam seluruh rantai nilai restorasi, mulai dari pengumpulan propagul hingga pemantauan pertumbuhan, yang memberikan nilai tambah ekonomi signifikan bagi keluarga.
Moch. Toha, salah satu nelayan yang terlibat, mengakui bahwa program ini menjadi penopang kesejahteraan saat laut tak lagi ramah. “Kalau melaut tidak selalu bisa setiap hari. Dengan pembibitan mangrove, kami tetap punya penghasilan pasti untuk biaya sekolah anak dan kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.
Ketua Kelompok Kompak Mandiri Lestari, Shodiq Machfudz, menilai keterlibatan profesional ini meningkatkan martabat petani pesisir. Mereka bukan sekadar objek bantuan, melainkan mitra kerja yang standar keterampilannya terus ditingkatkan melalui pendampingan teknis dari TPS.
Sekretaris Perusahaan TPS, Erika A. Palupi, menegaskan bahwa visi perusahaan adalah menciptakan keberlanjutan sejati. “Keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah bibit, tapi dari perubahan nyata pada dompet dan masa depan petani. Kami membangun ekosistem di mana lingkungan pulih dan masyarakatnya bermartabat melalui ekonomi hijau,” ujar Erika.
Bibit-bibit ini ditargetkan siap tanam pada April 2026 dan akan didistribusikan untuk merehabilitasi kawasan pesisir Surabaya serta wilayah lainnya. Inisiatif ini membuktikan bahwa penjagaan benteng alami pesisir dan penyerap karbon biru bisa berjalan selaras dengan penciptaan lapangan kerja berbasis kearifan lokal.[rea]






