Ringkasan Berita:
– Jemaah wajib minum air putih secara berkala tanpa menunggu haus untuk hindari dehidrasi.
– Saran medis: konsumsi minimal dua teguk air putih setiap rentang waktu lima menit.
– Ketakutan batal wudu menjadi pemicu utama jemaah menahan minum di Masjidil Haram.
– Risiko dehidrasi berat dapat memicu kelelahan, hilang fokus, hingga serangan heat stroke.
Makkah (beritajatim.com) – Jemaah haji Indonesia yang berada di Makkah diimbau untuk rutin mengonsumsi air putih setiap lima menit sekali tanpa menunggu rasa haus guna mencegah dehidrasi di tengah cuaca panas yang mencapai 36 derajat Celsius.
Langkah preventif ini sangat krusial mengingat kebiasaan jemaah yang sering menahan minum demi menghindari frekuensi ke kamar mandi saat berada di kawasan Masjidil Haram.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, peringatan ini dikeluarkan agar jemaah tetap memiliki stamina prima sebelum memasuki fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Banyak jemaah, terutama asal daerah seperti Jawa Timur, cenderung membatasi asupan cairan karena khawatir harus berulang kali mengambil wudu jika ingin tetap berada di dalam masjid.
Kepala Seksi PKP2JH, Lansia, dan Disabilitas Daker Makkah PPIH Arab Saudi, Mayor CKM. dr. Ridwan Siswanto, mengonfirmasi fenomena tersebut.
“Jemaah menurut saya itu pada ketakutan atau pada tidak mau wudhunya batal. Karena repot ya, apalagi kalau sudah di dalam Masjidil Haram, sudah di [bukit] safa, keliling, tiba-tiba kebelet, kan repot,” ujar dr. Ridwan saat ditemui di Kantor Daker Makkah, Selasa (28/4/2026).
Pola Minum Berkala
Sebagai solusi medis, dr. Ridwan menyarankan teknik minum sedikit demi sedikit namun konsisten agar kecukupan cairan tubuh tetap terjaga tanpa membebani kandung kemih secara mendadak. Strategi ini diharapkan dapat menyeimbangkan penguapan cairan tubuh akibat suhu udara yang menyengat.
“Sering minum itu kan berkala, mungkin setiap 5 menit minum 2 teguk, 5 menit minum 2 teguk, gitu,” kata dr. Ridwan memberikan saran teknis. Pola ini dinilai lebih efektif menjaga hidrasi dibandingkan minum dalam jumlah besar sekaligus dalam waktu yang jarang.
Ancaman Heat Stroke dan Fokus Ibadah
Dampak dari kekurangan cairan tidak bisa disepelekan. Dehidrasi dapat menyebabkan jemaah cepat letih, kehilangan konsentrasi, hingga kondisi yang paling fatal yakni serangan heat stroke.
Risiko ini meningkat tajam jika jemaah juga mengalami kurang tidur akibat memaksakan diri melakukan ibadah sunah secara berlebihan tanpa istirahat yang cukup.
“Kemudian bisa yang terparahnya sampai heat stroke. Karena apa? Udah kita kurang minum, cuaca panas, kelelahan, nah itu semua faktor risiko,” tegas dr. Ridwan.
Ia menambahkan bahwa semangat ibadah “tancap gas” yang sering ditunjukkan jemaah setibanya di Tanah Suci harus dibarengi dengan manajemen kesehatan yang disiplin.
Mengingat ibadah haji adalah ibadah fisik, PPIH mengimbau jemaah untuk mengatur ritme aktivitas. “Fokusnya itu langsung ibadah. Kapan lagi? Saya mungkin sekali seumur hidup sampai ke Tanah Suci. Jadi fokusnya ibadah terus, digeber,” tambahnya menggambarkan pola pikir jemaah yang perlu diseimbangkan dengan kesadaran menjaga kondisi fisik agar tetap sehat hingga puncak haji nanti. [ian/MCH]






