Madinah (beritajatim.com) – Dapur Uhud Taiba for Catering di Madinah menyediakan 6.000 porsi makanan bercita rasa autentik Nusantara setiap hari untuk memenuhi kebutuhan nutrisi jemaah haji Indonesia selama musim haji 1447 H/2026 M.
Terletak di Prince Naif ibn Abdulaziz Road, dapur ini mengandalkan bumbu-bumbu yang didatangkan langsung dari tanah air guna mengobati kerinduan jemaah terhadap masakan kampung halaman sekaligus menjaga stamina fisik mereka.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, suasana di dapur ini sangat kental dengan nuansa Indonesia.
Puluhan koki profesional asal berbagai daerah di Indonesia, seperti Bogor dan Cirebon, sibuk mengolah bahan makanan segar dengan standar kebersihan yang dipantau ketat melalui jaringan CCTV dan alat pelindung diri (APD) lengkap.
Chef Muhammad Suhendi (46), koki asal Puncak, Bogor, yang sudah dua tahun memimpin operasional dapur ini, mengungkapkan dedikasinya bagi para tamu Allah. “Jemaah itu orang tua saya.
Jadi kami buat yang terbaik. Jangan khawatir untuk makannya, biar ibadahnya tenang. Kita yang menyiapkan makanannya setiap waktu makan,” ujar Suhendi sambil mengawasi timnya mengaduk bumbu di tungku besar.
Bumbu Asli Indonesia dan Teknologi Modern
Keunggulan utama Dapur Uhud Taiba terletak pada bahan bakunya. Seluruh pasta masakan, mulai dari bumbu rendang, balado, gepuk, hingga nasi goreng kampung, merupakan suplai resmi yang didatangkan oleh pemerintah Indonesia. Hal ini memastikan cita rasa jahe, pala, kemiri Jawa, hingga kayu manis tetap kuat meski dimasak di tengah padang pasir.
Di area pengolahan, koki seperti Wahidin dan Ali asal Cirebon lincah meracik menu harian yang menggugah selera. Dapur ini didukung peralatan mutakhir, termasuk pemanggang Gima Forni yang sanggup memproduksi hingga 900 potong ayam panggang dalam satu sesi masak, serta perlengkapan modern merk Berjaya dari Malaysia.
Proses distribusi pun dilakukan secara cepat. Dari tahap memasak hingga pengemasan hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam guna memastikan makanan sampai ke tangan jemaah dalam kondisi tetap hangat dan segar. Setiap hari, tim menyiapkan tiga kali waktu makan dengan porsi masing-masing 2.000 boks.
Pengawasan Gizi dan Standar Kesehatan
Mengingat banyaknya jemaah lansia tahun ini—yang menurut data terbaru telah mencapai lebih dari 6.900 orang di Madinah—aspek nutrisi menjadi prioritas utama.
Dokter gizi berlisensi asal Arab Saudi, Jillan Gazzi, secara rutin memeriksa kualitas hidangan agar sesuai dengan standar yang ditetapkan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI.
“Kualitas gizi disesuaikan dengan standar dari Indonesia (Kemenhaj). Makanan memenuhi nutrisi cukup, sehat, dan sesuai kebutuhan jemaah yang mayoritas sudah berusia lanjut,” tegas Jillan Gazzi di sela inspeksi dapur. Menu seperti teri balado, oreg tempe, hingga daging tongseng dipastikan memiliki kadar garam dan nutrisi yang seimbang.
Bagi tim di Uhud Taiba, memasak untuk jemaah bukan sekadar rutinitas profesional, melainkan bentuk pengabdian spiritual. “Rasa Nusantara ini bisa mengobati rindu kampung, sekaligus memberi tenaga untuk menjalani rangkaian ibadah yang melelahkan,” pungkas Muhammad Suhendi.
Sinergi antara koki ahli, bumbu tanah air, dan teknologi modern ini memastikan lidah dan perut jemaah aman, sehingga hati tetap khusyuk bersujud di Masjid Nabawi. [ian/MCH]






