Saya menduga tekanan darah Paul Munster meningkat, Minggu (15/12/2024). Ada banyak hal yang bikin pelatih asal Irlandia Utara berang di Stadion H. Agus Salim, Padang, Sumatra Barat. Bukan hanya hasil imbang 0-0 dengan Semen Padang dalam sebuah pertandingan yang seharusnya bisa dimenangkan. Namun hilangnya tiga pemain dari daftar susunan pemain (DSP) membuatnya tak terima.
Semua berawal saat bek kiri Persebaya, Ardi Idrus, mendapat kartu merah langsung dari wasit Axel Febrian Sinaga pada menit 67, karena tangannya melayang ke wajah penyerang Semen Padang, Gala Pagamo. Kekonyolan Idrus ini sudah cukup membuat Munster dan pendukung Persebaya kesal.
Bermain dengan sepuluh pemain saat Persebaya harus menang agar bisa menjauh dari kejaran Persib di klasemen sementara Liga 1 Musim 2024-25 jelas berat. Apalagi para pemain impor Persebaya seperti Mohammed Rashid, Francisco Rivera, dan Flavio Silva membuang peluang matang di depan gawang Semen Padang yang dijaga Teguh Amiruddin.
Kemarahan Munster meledak saat keinginannya memasukkan Riswan Lauhin menggantikan Malik Risaldi untuk memperkuat pertahanan tak juga terlaksana. Usut punya usut, nama Riswan tak ada dalam DSP. Begitu juga nama Kasim Botan, dan Alfan Suaib. Padahal tiga nama itu tercantum dalam DSP saat pengecekan oleh wasit dan match commissioner di ruang ganti.
Riswan memang akhirnya bisa bermain di hadapan 6.752 orang penonton. Namun perdebatan untuk memasukkannya ke lapangan membuang waktu, dan ini merugikan Persebaya yang secara taktik harus segera memasukkan pemain baru sebagai mitigasi atas dikeluarkannya Ardi Idrus.
“Bagaimana ini bisa terjadi. Saya ingin ini diinvestigasi,” kata Munster.
Perdebatan terjadi di tepi lapangan. Teori konspirasi merebak di media sosial: ada upaya menjegal Persebaya yang saat ini tengah di posisi pucuk klasemen. Tentu saja, teori konspirasi butuh bukti atau hanya jadi rumor.
Namun terlepas dari urusan konspirasi, pertandingan melawan Semen Padang mempertegas pekerjaan rumah besar Munster. Kegagalan para pemain mengeksekusi bola di dalam kontak penalti Semen Padang tidak bisa diterima, terutama kegagalan Flavio Silva di menit-menit akhir jelang pertandingan.
Pemain asal Portugal itu berhasil merebut bola dari kaki pemain bertahan Kim Min-Kyu. Dia melesat ke kotak penalti bagai anak panah, berhasil mengecoh kiper Teguh Amiruddin, dan berakhir dengan mengarahkan bola ke angkasa. Kegagalan luar biasa bagi seorang pemain depan yang punya reputasi sebagai pencetak gol terbanyak kedua pada musim sebelumnya.
Padahal jika ditinjau dari aspek statistik, permainan Persebaya membaik. Berdasarkan situs persebaya.id, akurasi operan tim Bajul Ijo mencapai 82 persen. Lebih baik dibandingkan pertandingan-pertandingan sebelumnya. Bahkan kendati bermain dengan sepuluh pemain, Persebaya bisa mengimbangi penguasaan bola Semen Padang (50 persen).
Ini anomali Persebaya memang. Mereka justru susah membuahkan hasil positif saat akurasi operan bagus dan penguasaan bola bisa mengimbangi lawan. Terakhir saat dikalahkan Persib Bandung, penguasaan bola Persebaya juga mencapai 50 persen dengan akurasi operan 83 persen. Persebaya bermain dengan penuh percaya diri.
Begitu juga saat melawan PSM Makassar yang berakhir imbang 1-1 di Surabaya. Persebaya sangat dominan di atas lapangan dengan penguasaan bola 71 persen. Akurasi operannya pun 83 persen.
Unik.
Lawan berikutnya di Gelora Bung Tomo, Jumat (20/12/2024), adalah Borneo FC yang sekarang menduduki peringkat ketiga klasemen. Keduanya terpaut delapan angka. Kemenangan akan semakin mengukuhkan Persebaya di puncak klasemen sekaligus meninggalkan Persib.
Namun saya kok tidak yakin tekanan darah Paul Munster sudah kembali normal jelanh pertandingan. Bukan apa-apa. Kali ini tiga pemain belakang andalannya bakal benar-benar hilang dari DSP. Ardi Idrus dan Arief Catur tak bisa diturunkan karena akumulasi kartu. Sementara Mikael tata masih memperkuat tim nasional.
Persebaya belum pernah tersentuh kekalahan di Surabaya. Hanya PSM Makassar yang berhasil mencuri satu angka. Bukan waktunya membuat sejarah buruk yang bikin Paul Munster dan Bonek naik darah. [wir]






