Surabaya (beritajatim.com) – Sebenarnya siklus haid yang normal berada pada rentang waktu 21-35 hari dan lamanya mencapai tiga hingga tujuh hari. Dengan jumlah darah yang keluar sekitar 50-60ml atau kurang lebih ganti pembalut tiga sampai lima kali sehari.
Namun, ada kasus di mana seseorang mengalami siklus haid yang lebih pendek. Hingga dalam sebulan terjadi 2-3 kali menstruasi. Jika hal seperti ini terjadi, maka sebaiknya konsultasikan kepada dokter.
Ada juga yang sebaliknya, dalam beberapa bulan belum juga datang bulan. Hal ini juga memungkinkan adanya gangguan di dalam rahim. Tak ayal jika kondisi seperti ini juga harus segera diperiksakan.
Siklus haid atau menstruasi setiap perempuan biasanya memang berbeda-beda. Ada yang teratur, tapi ada juga yang tidak. Haid yang tidak teratur mungkin saja karena adanya kelainan organik atau non organik yang dialami seseorang.
Kelainan organik yang dimaksud ialah adanya penyakit yang berkaitan dengan kandungan, seperti Mioma Uteri, adanya erosi mulut rahim, dan lain sebagainya.
Biasanya hal ini menimbulkan efek samping seperti darah yang timbul menjadi lebih banyak, sehingga memungkinkan untuk mengalami anemia atau kekurangan darah. Efek samping lainnya bisa membuat penderitanya lemas dan mudah lelah.
[berita-terkait number=”3″ tag=”wanita”]
Sedangkan ketidakteraturan haid karena kelainan non organik, biasanya berkaitan dengan hormonal. Mulai dari hormonal sentral hingga hormonal ovarium.
Keduanya tidak menimbulkan efek samping yang cukup berbahaya, hanya saja kualitas keseharian dan kesempatan untuk memiliki anak sedikit terganggu.
Jadi, garis besarnya, haid yang tidak teratur tidak melulu karena seseorang hamil. Namun, ada berbagai faktor yang bisa menyebabkan hal tersebut terjadi. Maka untuk mengetahui penyebab spesifiknya, bisa konsultasi pada profesional. (Fyi/ian)






