Surabaya (beritajatim.com)- Tren thrifting menjadi populer dikalangan anak muda saat ini. Dibanding dengan berbelanja barang-barang baru, thrifting memberikan kesan yang berbeda dan lebih disukai generasi muda, khususnya gen Z.
Bagi banyak anak Gen Z, belanja bukan sekadar mencari pakaian baru, tapi juga petualangan menemukan potongan unik yang tidak akan dimiliki orang lain. Dengan thrifting, kita tidak hanya melihat pakaian sebagai barang yang dikenakan, tetapi sebagai tempat menyimpan cerita lama dari pemilik sebelumnya. Membeli pakaian thrifting selain karena harganya yang lebih hemat juga dapat menjadi pusat kreativitas dan ekspresi diri.
Fashion sebagai ciri khas personal
Generasi muda menggunakan fashion sebagai cara dalam mengekspresikan dan menonjolkan diri. Melalui thrifting memungkinkan anak muda untuk dapat memadupadankan pakaian menjadi gaya yang unik sehingga menjadikannya sebagai ciri khas dari individu karena tidak dimiliki oleh orang lain.
Dengan thrifting kalian dapat menemukan barang-barang bergaya retro dan vintage yang tidak diproduksi lagi, bahkan dapat juga menemukan brand-brand lama yang kini sudah tidak ada lagi. Hal ini menjadikan barang memiliki nilai yang tidak dimiliki barang lain sehingga lebih berharga.
Perasaan nostalgia
Barang-barang thrifting menawarkan berbagai macam gaya, baik gaya lama atau gaya baru. Hal ini dapat dijadikan sebagai sarana bernostalgia terhadap trend fashion lama. Barang-barang yang didapatkan melalui thrifting memiliki emosional dan sejarah yang menjadi daya tarik bagi anak muda. Kebanyakan anak muda memanfaatkan barang-barang thrifting, khususnya pada pakaian untuk mengembalikan suasana jadul yang lebih vintage dan ikonik.
Tren fashion tahun 90-an yang digabung dengan tren modern menjadi pilihan anak muda untuk membentuk gaya yang segar dan berbeda. Bagi Gen Z, memiliki barang dengan ‘jiwa’ dan cerita adalah hal yang membuat fashion terasa lebih hidup.
Peluang bisnis
Thrift juga menjadi salah satu cara anak muda untuk mengembangkan peluang bisnis dengan konsep preloved. Berbeda dengan bisnis fashion konvensional yang membutuhkan modal besar untuk produksi, bisnis thrift shop bisa dimulai dengan modal kecil. Kalian bisa mendapatkan barang berkualitas dengan harga murah, lalu menjualnya kembali dengan margin yang menguntungkan.
Menjual barang-barang lama memungkinkan pembeli mendapatkan sesuatu yang one of a kind yang menjadi keunggulan. Generasi muda umumnya menginginkan sesuatu yang tidak banyak orang miliki karena tidak “pasaran”, sehingga bisnis thrifting dapat menjadi solusi.
Dari sekadar toko barang bekas menjadi panggung fashion, thrift shop kini menjelma sebagai simbol gaya hidup anak muda, terutama Gen Z. Bukan cuma soal harga miring, thrifting adalah tentang mencari keunikan, merangkai cerita, dan membangun identitas personal lewat pakaian. Jadi, tunggu apa lagi? Mulailah jelajahi thrift shop di kotamu, temukan harta karun fashion yang sesuai dengan kepribadianmu, dan buktikan bahwa gaya unik tak harus mahal. [Erlina]






