Malang (beritajatim.com) – Di balik megahnya bangunan dan reputasi akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, tersimpan sebuah rahasia spiritual yang menjadi fondasi utamanya. Kampus yang dikenal dengan visi Ulul Albab ini ternyata memiliki prasasti suci yang terbuat dari tanah yang diambil langsung dari makam sembilan wali (Wali Songo).
Kisah di balik Tanah Wali Songo ini diungkap oleh Dr. KH. Mohammad Imam Muslimin, M.Ag, atau yang akrab disapa Yai MIM. Beliau adalah sosok sentral yang mengusulkan ide dan memimpin langsung misi suci tersebut.
Semua bermula dari gagasan berani Yai MIM, yang saat itu masih menjadi dosen muda. Beliau mengusulkan sebuah konsep visioner kepada rektor saat itu, Prof. Imam Suprayogo, untuk mendirikan pondok pesantren (Ma’had) di dalam lingkungan kampus.
“Visi UIN Malang adalah melahirkan ulama intelek profesional yang memiliki empat kekuatan: kedalaman spiritual, keagungan akhlak, ketinggian ilmu, dan kematangan profesional. Dua kekuatan pertama, yakni spiritual dan akhlak, meniscayakan adanya kegiatan seperti salat berjamaah, qiyamul lail, dan riyadhah. Ma’had adalah jawabannya,” jelas pengasuh PP Anshofa & Ma’had Nurus Shafa Al Islami (NUSAMI) Malang itu.
Gagasan ini diterima dan menjadi cikal bakal berdirinya Pusat Ma’had Al Jami’ah, unit penunjang yang kini menjadi jantung spiritual kampus. Untuk memberkahi dan menguatkan fondasi Ma’had, Prof. Imam Suprayogo menugaskan langsung Yai MIM untuk sebuah misi yang tidak biasa: melakukan perjalanan ziarah dan mengambil tanah dari makam sembilan wali di tanah Jawa.
Dengan mobil L300 yang dikemudikan oleh Pak Wakidi, Yai MIM bersama rombongan yang terdiri dari para kiai memulai perjalanan spiritual mereka. Misi ini bukanlah perjalanan biasa, melainkan sebuah pengembaraan yang dipenuhi berbagai ujian dan keajaiban.
Mulai dari tersesat saat menuju makam Sunan Drajat hingga mobil kehabisan bahan bakar di tengah jalan menuju Sunan Muria. Namun, tantangan terbesar mereka hadapi saat tiba di Cirebon, di makam Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah).
“Kami menunjukkan surat tugas dari Kementerian Agama, namun tetap tidak diizinkan masuk ke area makam utama,” kenang Yai MIM.
Petugas makam menjelaskan bahwa izin hanya bisa didapat dari ‘Kasepuhan’ (sesepuh keraton). Rombongan pun sowan kepada seorang nenek sepuh yang berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda halus.
“Kami bertiga tidak ada yang mengerti bahasanya. Tapi kami belajar thoriqoh, bahwa komunikasi bisa lewat bahasa hati,” ungkap Yai MIM. “Saya mencoba menangkap maksud hati beliau, dan alhamdulillah saya bisa memahaminya.”
Sang Kasepuhan memberikan serangkaian amalan yang sangat berat sebagai syarat untuk bisa masuk, termasuk membaca Surah Yasin 41 kali dan berbagai selawat dalam jumlah besar. Setelah amalan berat itu diselesaikan oleh kiai paling sepuh dalam rombongan, keajaiban terjadi.

“Saat kami kembali, pintu makam terbuka. Ternyata yang menghalangi sebelumnya bukan manusia, tapi dari golongan jin. Setelah kami diizinkan, kami disambut oleh tujuh sosok besar yang membukakan pintu makam,” tuturnya.
Di dalam makam, sebuah peristiwa gaib kembali terjadi. Saat para kiai mengambil tanah, Yai MIM mengaku dilarang langsung oleh arwah Sunan Gunung Jati. “Pak Haji (kiai lain) mengambil tanah, tapi saya dilarang. ‘Kamu tidak boleh mengambil,’ begitu pesannya. Karena dilarang, saya tidak mengambil,” katanya.
Akhirnya, rombongan pulang ke Malang hanya membawa delapan kendil tanah, minus tanah dari makam Sunan Gunung Jati. Tanah tersebut kemudian ditirakati selama tiga hari tiga malam sebelum ditanam dalam sebuah upacara sakral yang dipimpin oleh para kiai sepuh di lokasi yang kini menjadi Ma’had Sunan Ampel Al-Aly, UIN Malang.
Hingga kini, lokasi prasasti Tanah Wali Songo tersebut menjadi tempat yang sering dikunjungi mahasiswa, dosen, dan santri untuk mencari ketenangan, dan bahkan digunakan sebagai tempat setoran hafalan Al-Qur’an.
“Anak-anak yang hafalan di sana hatinya menjadi tajam, perasaannya peka, dan akhlaknya mulia. Itulah berkah dari tanah para wali yang menjadi DNA spiritual kampus ini,” tutup pria yang sehari hari menjadi Dosen Filsafat Tasawuf PPs UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu. (dan/but)






