Jember (beritajatim.com) – Ada tiga persoalan yang dihadapi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
Persoalan ini diungkap Kelompok Riset dan Pengabdian Masyarakat (Keris Dimas) Local Economic Governance Studies (LEGS) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember.
“Tiga persoalan itu adalah kurang optimalnya fungsi pendampingan, kurang optimalnya penggunaan teknologi informasi, serta keterbatasan ruang kolaborasi antar stakeholders dan pemerintah,” kata Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar Rachmat, sebagaimana dilansir Humas Unej, Jumat (18/11/2022).
Tercatat tahun ini, ada 39 ribu pelaku UMKM di Kabupaten Bondowoso. Saat ini mereka masih mengalami hambatan pada akses permodalan dan penguasaan teknologi, sehingga masih sulit untuk berkembang.
“Demikian juga data UMKM masih belum by name by address. Oleh karena itu data UMKM harus segera di-update agar segala program yang terkait dengan pengembangan UMKM dapat berjalan secara tepat sasaran” kata Irwan.
Irwan mengatakan, persoalan UMKM di Kabupaten Bondowoso membutuhkan peran serta semua pihak. Hal ini penting agar kebijakan pengembangan UMKM yang dibuat benar-benar solutif. Para peneliti dari FISIP Universitas Jember, menurutnya, tidak hanya melakukan pemetaan masalah.
“Namun juga secara bersama-sama melakukan penyusunan policy brief untuk mengembangkan potensi UMKM di Bondowoso. Kami berharap nantinya hal ini dapat bermanfaat untuk kemajuan UMKM di Bondowoso,” kata Irwan.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pemkab-bondowoso”]
Ketua Tim Peneliti Dina Suryawati mengatakan, tujuan utama dari riset ini adalah untuk membangkitkan kemampuan UMKM dalam menghadapi segala perubahan termasuk perubahan yang disebabkan pandemi.
“Perlu dilakukan optimalisasi fungsi pendampingan UMKM, digitalisasi PLUT (Pusat Layanan Usaha Terpadu), dan UMKM Fair. Ini skema matching fund untuk akselerasi program UMKM naik kelas,” katanya. [wir/ted]






