Bondowoso, (beritajatim.com) – Curhatan salah satu dokter spesialis di Kabupaten Bondowoso, dr. Yus Deny Lanasakti di media sosial beberapa waktu lalu, menguak lebih luas aib oknum dokter spesialis di Bondowoso.
Awalnya, dokter Yus Deny hanya menyampaikan ada oknum dokter spesialis yang bekerja 2 hari dari jatah 5 hari kerja selama sepekan.
Namun hasil penelusuran, ternyata malah ada oknum dokter spesialis yang menjadi PNS lalu bolos bekerja sejak tahun 2021 hingga sekarang.
Anehnya, oknum dokter tersebut hadir ke tempat kerjanya hanya saat ada pemeriksaan saja.
Sebelumnya, dokter Yus Deny Lanasakti hanya memberi kode bahwa ada beberapa oknum dokter spesialis nakal di Bondowoso karena tidak bekerja selayaknya abdi negara.
“Saya masuk tahun 2015. Jadi pada tahun 2015 itu sudah banyak di RSUD praktik dokter yang tidak sesuai dengan jam kerjanya. Kita di Bondowoso 5 hari jam kerja, itupun (oknum dokter) spesialis itu hanya minta 2 kali pelayanan dalam seminggu,” bebernya di dalam unggahan video TikTok.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso, Agus Winarno merespon dokter Yus Deny Lanasaksi yang viral di medsos. Meski demikian dia mengaku belum menerima laporan resmi dari rumah sakit.
“Kami secara langsung belum ada laporan dari rumah sakit (RSUD dr. H. Koesnadi). Minimal rumah sakit bersurat untuk tindak lanjut. Sebab RSUD dr. H. Koesnadi itu kan UOBK (Unit Organisasi Bersifat Khusus),” tuturnya.
Namun pihaknya sudah komunikasi secara lisan untuk mengklarifikasi kepada dokter Yus Deny Lanasakti. Mengenai fakta atau tidaknya, Agus berharap hal itu segera ditindaklanjuti oleh RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso.
“Mungkin dalam waktu dekat akan ditindaklanjuti. Nanti minimal ada tembusan ke kami,” kata Agus.
Direktur Utama RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso, dr. Yus Priyatna Adriyanto juga telah menelusur viralnya speak up dokter spesialis.
“Kami bersama Inspektorat dan BKPSDM hanya bisa melakukan cek dan ricek, istilahnya klarifikasi. Prosesnya dimulai dari Inspektorat,” katanya.
Perihal siapa yang dituduh oleh dokter Yus Deny Lanasakti, ia tidak bisa menjawab. Sebab hingga saat ini masih sebatas dugaan. “Untuk lain-lain hanya bisa menduga-duga, karena tidak ada oknum yang disampaikan,” jawabnya.
Namun, dia menduga salah satu yang menjadi perhatiannya adalah seorang dokter spesialis kandungan berinisial ED, yang tidak pernah masuk kerja sejak tahun 2021.
“Sebelumnya pernah kita urus sampai ke Kemenkes. Karena beliau mengambil beasiswa Kemenkes,” ucapnya.
Berdasarkan aturan, apabila dokter spesialis hasil dari beasiswa Kemenkes lalu memilih keluar sebagai ASN, maka harus mengembalikan dana sekitar Rp8 miliar.
“Dengan pengembalian (Rp8 miliar) itu, beliau keberatan. Sehingga Kemenkes mengambil keputusan di tahun 2020 untuk beliau bertugas lagi di rumah sakit. Ternyata dari evaluasi, beliau tidak menjalankan tugas sesuai yang ditugaskan oleh Kemenkes,” katanya.
Pihak RSUD Koesnadi pun kembali berkoordinasi dengan Inspektorat. Sarannya agar menanyakan kembali status pegawai oknum dokter spesialis tersebut ke Kemenkes.
“Kira-kira apakah akan diambil alih kemenkes atau diserahkan ke daerah lagi. Karena kalau diliat dari absen, mungkin sekitar tahun 2021 tidak pernah masuk kerja,” sebutnya.
Namun apabila ada pemeriksaan, barulah oknum dokter spesialis kandungan tersebut hadir. Hal ini dinilainya masuk kategori pelanggaran disiplin, karena tidak pernah masuk kerja. Risiko terakhir adalah diberhentikan.
“Salah satunya mungkin dokter itu yang disebutkan (disindir) oleh dokter Yus Deny. Tapi biar inspektorat yang mengurus. Bagaimanpun ASN koordinasinya Inspektorat. Sementara RSUD itu hanya user,” ucapnya.
Namun demikian, pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk tenang karena pelayanan kesehatan tidak terpengaruh, meskipun ada beberapa oknum dokter spesialis yang indisipliner.
“Masyarakat tidak perlu gaduh. Sistem pelayanan kami tetap berjalan karena saling backup. Dokter spesialis ada 3. Jika ada yang berhalangan hadir, masih ada dua. Jadi untuk pelayanan masih tetap, tidak ada kendala,” ungkapnya.
Inspektur Pemkab Bondowoso, Ahmad saat dikonfirmasi membenarkan pihaknya tengah menangani perihal dugaan kasus indisipliner ASN.
“Iya, mas. Kami masih pengumpulan informasi dan keterangan. Masih proses klarifikasi. Nanti hasilnya akan disampaikan lebih lanjut,” jawab Ahmad dikonfirmasi terpisah. [awi/aje]






