Bondowoso (beritajatim.com) – Harga jual tembakau variestas voor oogst kasturi cukup mahal tahun lalu. Hal ini membuat petani tembakau di Kabupaten Bondowoso memperbanyak menanam variestas tersebut di tahun 2024 ini.
Menurut Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Bondowoso, Ahmad Yasid, petani mengurangi menanam varietas lokal Maesan tahun ini.
“Tahun ini posisi varietas tembakau yang ditanam petani yaitu 50 persen Maesan dan 50 persen kasturi,” ungkap Yasid kepada BeritaJatim.com, Jumat (19/7/2024).
Komposisi penananam varietas tembakau tahun 2024 pun berbeda dengan tahun 2023 lalu.
“Tahun sebelumnya itu 70 persen varietas maesan dan 30 persen kasturi,” sebut pria yang juga Sekretaris APTI Jawa Timur tersebut.
Apalagi, serapan tembakau kering petani di Kabupaten Bondowoso cukup tinggi di masa panen tahun lalu.
“Alhamdulillah tahun 2023 tembakau Bondowoso terserap 97 persen. Sedangkan 3 persen sisanya tidak terserap karena tanam melampaui jadwal tanam yang baku,” urainya.
Warga Desa Pekalangan, Kecamatan Tenggarang ini juga menyebut harga jual varietas kasturi yang cukup menggiurkan.
“Harga tahun 2023 untuk kasturi rata-rata Rp 60 ribu per kilogram. Sedangkan untuk rajang Rp 55 ribu per kilogram,” sebut Yasid.
Berubahnya pola tanam petani tembakau Bondowoso tahun ini tak lain juga karena pengalaman di musim sebelumnya.
“Petani belajar dari pengalaman tahun 2023. Dimana pasar kasturi sangat luas,” ucapnya.
Selain itu, dalam hal produksi juga lebih variatif dan lebih fleksibel diterima oleh pasar.
“Bisa pasat/rajang dan krosok. Bahkan juga ada permintaan dirajang gula,” ulasnya.
Ia meyakini untuk areal tanam tembakau pada tahun 2024 ini akan meningkat 20 persen dibanding tahun sebelumnya.
“Kami juga mensosialisasikan kepada para petani agar jeli memperhatikan stabilisasi pasar,” imbaunya.
Selain itu juga peka pada anomali iklim yang bisa mempengaruhi kualitas produksi tembakau.
“Sehingga bisa antisipasi dengan memperhatikan risiko perubahan iklim itu,” terang Yasid.
Mengenai kebutuhan pabrikan untuk tembakau kering dari Bondowoso disosialisasikan sebanyak 3.500 ton.
“Walaupun resminya belum muncul kebutuhan riilnya dari pabrikan. Tapi dinas sudah mensosialisasikan estimasi kebutuhan tembakau petani,” bebernya.
Menariknya, walaupun permintaan pabrikan hanya sebanyak itu, tetapi angka produksi tembakau Bondowoso tembus lebih dari dua kali lipat.
“Rata-rata produksi petani Bondowoso 8.000 – 9.000 ton. Jika tidak terserap di pasar lokal, kami jual ke luar daerah,” akunya. (awi/ted)






