Jember (beritajatim.com) – Menepis isu politis yang diarahkan terhadap pemerintah daerah, Wakil Bupati Muhammad Balya Firjaun Barlaman alias Gus Firjaun langsung turun tangan mengatasi kendala pencairan insentif guru ngaji di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Insentif yang sudah dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Jember Tahun Anggaran 2024 ini tengah dalam proses realisasi. Ada kurang lebih 21 ribu orang guru ngaji yang akan mendapat insentif dengan nominal Rp 1,5 juta per orang.
Sebagian verifikasi sudah dilakukan di lapangan, dan 7,086 nama guru ngaji sudah diajukan. Namun insentif itu belum juga direalisasikan.
Firjaun akhirnya mengundang Bagian Kesra Pemkab Jember dan Bank Jatim untuk membahasnya, Jumat (20/9/2024). “Semestinya pada semester pertama sudah cair. Namun karena ada peralihan (bank penyalur) dari BRI ke Bank Jatim, dibutuhkan proses,” katanya.
Awalnya, bank penyalur adalah BRI, karena memiliki banyak kantor cabang pembantu di desa. “Namun sebagai bank konvensional, ada pemotongan administrasi dan saldo tidak boleh nol. Yang diterima guru ngaji tidak utuh. Kami kemudian mencoba berkomunikasi dengan Bank Jatim,” kata Firjaun.
Pemkab Jember mengajukan permintaan agar penerima insentif tidak dikenai biaya administrasi bank. “Jadi tidak ada administrasi dan saldo bisa nol rupiah. Nah ini yang bisa (mengabuilkan permintaan itu) di pusat,” kata Firjaun.
Bank Jatim pusat sudah menerima permohonan Pemkab Jember. “Setelah saya kontak langsung dan berkomunikasi dengan Divisi Hubungan Kelembagaan (Bank Jatim pusat), (dijelaskan bahwa) perlu ada kajian dari Divisi Hukum dan Kepatuhan,” kata Firjaun.
Firjaun sempat menanyakan tempo yang dibutuhkan untuk melakukan kajian. “Kami butuh setidakenya estimasi walau pun tidak bisa memastikan. Kira-kira kapan? Kami minta sesegera mungkin. Tentu dengan tidak mengabaikan kecermatan agar tidak salah. Tapi kami minta informasi dari Bagian Hubungan Kelembagaan tadi,” katanya.
Menurut informasi yang diterima Firjaun, Pemkab Jember bukan satu-satunya yang mengajukan permintaan itu. “Banyak juga dari kabupaten dan kota lain. Harapan kami, Jember diprioritaskan karena, sekali lagi. guru ngaji ini tidak ada kaitan dengan pilkada. Ini yang perlu dicatat,” katanya.
“Ini kan seharusnya cair pada semester pertama. Tidak cairnya karena ada proses yang tertunda sampai bulan mendekati pelaksanaan pilkada. Nah ini kemudian dikait-kaitkan. Kami minta kepada semua pihak, terutama Bagian Kesra dan Bank Jatim untuk bekerja profesional,” katanya.
Firjaun meminta agar insentif guru ngaji direalisasikan untuk nama-nama calon penerima yang sudah membuka rekening di Bank Jatim. “Mereka (Bank Jatim) menyanggupi,” katanya.
Masa penyelesaian pengurusan rekening di Bank Jatim adalah 14 Oktober 2024. Firjaun meminta Bagian Kesra bekerja melakukan verifikasi terhadap 21 ribu guru ngaji calon penerima insentif sesuai dengan lini masa tersebut. “Nanti bertahap. Evaluasinya setiap Jumar. Jumat kemarin sudah terkumpul 7.086, kemudian dilakukan proses entry dan sebagainya,” katanya.
Lembaga dengan jumlah 10-50 orang siswa yang diajar ngaji akan mendapat jatah insentif untuk dua guru ngaji. Sementara untuk lembaga yang menaungi 50-100 orang siswa akan mendapat jatah insentif untuk tiga orang guru ngaji. Lembaga dengan jumlah 100-150 orang siswa ngaji akan mendapat jatah insentif untuk lima orang guru ngaji.
Sementara itu, guru ngaji yang tidak berada di bawah naungan lembaga akan mendapat insentif bila memiliki minimal 10 orang murid dan atau kelipatannya. “Cuma tadi kami minta untuk dipilah, jumlah guru ngaji non lembaga dan guru ngaji yang berada di bawah lembaga, karena prioritas kami sebetulnya guru ngaji non lembaga,” kata Firjaun.
Guru ngaji yang mengajar di luar lembaga tertentu banyak tersebar di kampung-kampung. “Tidak ada yang memikirkan mereka yang mengajar di langgar-langgar kecil. Itu yang kami prioritaskan. Yang lillahita’ala. Kalau guru ngaji di bawah lembaga, setidaknya sudah memberikan (insentif) walau belum ideal. Namun kami tetap membantu,” kata Firjaun.
Firjaun ingin memastikan proses realisasi insentif ini tidak ada hambatan. Kendala sempat muncul saat Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemkab Jember Achmad Musoddaq harus cuti tiga bulan karena sakit jantung. Tak ingin rakyat kehilangan hak, Bupati Hendy Siswanto kemudian menunjuk Sekretaris Camat Sukorambi Bagus Hendrawan menjadi pelaksana harian di Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemkab Jember.
Pemkab Jember tengah mengupayakan ada akselerasi percepatan realisasi. Jika ada guru ngaji yang mengalami kendala dalam menerima insentif, Firjaun menyarankan agar menemui Bagian Kesra atau pemerintah desa. “Kalau misalkan langsung ke saya, tidak masalah. Nomor HP saya cuma satu dan insyaallah on terus,” kata Hendy.
Firjaun menargetkan seluruh guru ngaji yang sudah terdata dan terverifikasi sebanyak 21 ribu orang bisa menerima insentif. “Kami berharap secepatnya. Setidaknya sebagaimana estimasi waktu Bank Jatim, 14 Oktober 2024. Harapan kami pertengahan bulan depan cair semua secara bertahap,” katanya. [wir]






