Surabaya (beritajatim.com) – Menjawab keresahan publik yang merebak di Jawa Timur, PT Pertamina Patra Niaga mengambil langkah cepat. Bekerja sama dengan Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas), perusahaan energi pelat merah ini telah merampungkan inspeksi dan pengujian sampel di hampir 300 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di kawasan Pantura Jawa Timur.
Hasilnya tidak ditemukan satu pun indikasi Pertalite (RON 90) yang tercampur air. Pertamina juga menegaskan bahwa Pertalite yang didistribusikan tidak memiliki campuran etanol, sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan pemerintah.
Penegasan ini disampaikan langsung oleh Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra, dalam konferensi pers di SPBU Jemursari, Surabaya, Jumat (31/10/2025).
“Kami all out dan memberikan atensi serius agar hal ini jangan sampai menimbulkan keresahan apalagi kerugian masyarakat. Kami berterima kasih atas laporan publik,” ujar Mars Ega.
Hal yang sama juga diamini oleh Koordinator Pengujian Aplikasi Produk Lemigas, Cahyo Setyo Wibowo, membeberkan hasil temuan dari investigasi skala besar tersebut. Menurutnya, proses pengujian dilakukan secara komprehensif dari hulu ke hilir.
“Pengujian telah dilakukan secara menyeluruh sesuai arahan Menteri ESDM dan Dirjen Migas. Sampel BBM diambil dari tangki pengirim, tangki penyimpanan di SPBU, hingga nozzle yang mengisi kendaraan konsumen,” jelas Cahyo.
“Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh sampel on-spec atau sesuai dengan spesifikasi dan mutu bensin RON 90 yang ditetapkan pemerintah,” tegas Cahyo.
Keresahan masyarakat sebelumnya banyak dipicu oleh keluhan mesin kendaraan yang “brebet” atau tersendat setelah mengisi BBM. Namun, para ahli memberikan perspektif lain.
Dari sisi Perspektif Akademis (Kimia) Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof Ir Renanto MSc PhD, menjelaskan secara ilmiah bahwa bensin dan air mustahil menyatu.
“Secara teori, bensin adalah hidrokarbon (terdiri dari C dan H) sementara air adalah H₂O. Keduanya tidak akan saling melarutkan. Berdasarkan standar mutu, Pertalite seharusnya bebas air sehingga aman digunakan,” paparnya.
Sementara itu, pengusaha bengkel sepeda motor di Surabaya, Juanda, mengungkapkan fakta di lapangan. Menurutnya, dari puluhan kasus “brebet” yang ia tangani, mayoritas bukan disebabkan oleh kualitas bahan bakar.
“Masalah brebet itu bisa dari banyak hal. Di bengkel kami, kami cek dulu pompa bensin, tekanan, sensor, dan busi,” ujarnya.
“Banyak kasus yang ternyata businya tidak normal atau sudah aus. Setelah busi diganti, mesin kembali lancar. Jadi jangan panik dulu,” tambah Juanda.
Ia juga menyarankan konsumen untuk menyesuaikan oktan BBM dengan spesifikasi kendaraan, terutama motor matik baru yang umumnya membutuhkan oktan lebih tinggi.
Menanggapi seluruh temuan ini, Dirut Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra menegaskan komitmennya. Pihaknya telah membuka posko pengaduan khusus untuk menangani keluhan konsumen secara cepat dan akan menindak tegas siapa pun yang terbukti melakukan pelanggaran.
“Kami pastikan Pertamina Patra Niaga berkomitmen tinggi untuk terus memperbaiki layanan,” tutupnya.[rea]







1 Komentar
Kenyataan sangat beda sekali pertalite dulu dan skrng yaitu dari baunya (aromanya) yg dulu aromanya khas bensin tetapi yg skrng beraroma sangat menyengat hidung mungkin kalau menghirup kelamaan akan langsung pingsan.
Ada apa dgn pertalite skrng ???