Madinah (beritajatim.com) – Petugas Bagasi Checker di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah bekerja dengan ketelitian tinggi guna memastikan setiap koper jemaah haji Indonesia terpantau, terhitung, dan masuk ke dalam alur distribusi menuju pemondokan dengan aman. Kerja keras di balik layar ini menjadi penentu ketenangan jemaah yang baru saja menempuh perjalanan udara panjang dari Tanah Air agar barang bawaan mereka tidak tertukar maupun tertinggal.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, operasional di area baggage zone Bandara Madinah kini memasuki fase krusial seiring meningkatnya frekuensi kedatangan kloter jemaah gelombang pertama. Para petugas harus bersiaga 24 jam untuk melakukan monitoring setiap koper yang keluar dari pesawat hingga dimuat ke kendaraan pengangkut.
Robby, salah satu petugas haji yang mengemban tugas sebagai Bagasi Checker, mengungkapkan bahwa konsentrasi tinggi adalah syarat mutlak, terutama saat jadwal kedatangan jemaah berlangsung sangat padat.
“Tantangannya cukup besar, apalagi kalau kloter yang datang bisa 3 sampai 4 kloter. Biasanya di area baggage zone akan dibuka dua gate, jadi kami harus benar-benar fokus dan teliti. Karena pergerakan koper sangat banyak dan semuanya harus tetap termonitor,” ujar Robby di Madinah.
Tantangan Cuaca dan Konsentrasi Tinggi
Pada saat beberapa kloter tiba dalam waktu berdekatan, perhatian petugas terbagi pada dua titik gerbang (gate) yang aktif secara bersamaan. Ketelitian menjadi kunci agar koper milik jemaah, termasuk jemaah asal Jawa Timur yang mendarat di Madinah, tetap berada pada jalur yang benar sesuai manifest kedatangan.
“Kalau dua gate dibuka, konsentrasi harus penuh. Kami harus melihat pergerakan koper, mencocokkan jumlah, dan memastikan koper masuk ke jalur yang benar. Kami benar-benar memantau setiap proses,” jelas Robby.
Selain beban kerja, faktor alam turut menguji fisik para petugas. Area kerja yang berada di luar ruangan dengan perlindungan tenda terbuka membuat mereka terpapar langsung cuaca Madinah yang saat ini cukup berangin dengan suhu yang dinamis.
“Cuaca di Madinah ini cukup berangin. Tempat kami menunggu juga berupa tenda yang terbuka, jadi memang kondisi fisik harus prima. Petugas bagasi checker harus siap dengan kondisi lapangan seperti itu,” tambahnya.
Vibes Mancanegara di Baggage Zone
Meskipun bekerja di bawah tekanan jadwal dan cuaca, koordinasi antarpetugas haji Indonesia tetap berjalan solid. Mereka juga menjalin komunikasi intensif dengan para carrier atau pengangkut bagasi yang disebut ummal, yang berasal dari berbagai negara. Hal ini menciptakan suasana kerja yang unik dan dinamis di area bandara.
“Di sini kami berkoordinasi dengan carrier atau ummal dari berbagai negara. Jadi komunikasinya banyak menggunakan bahasa Inggris. Bisa dibilang, di sini kami bisa berkomunikasi dengan lancar dengan vibes mancanegara,” ungkap Robby.
Suasana kebersamaan ini tidak hanya terlihat saat menjalankan tugas, tetapi juga dalam aktivitas ibadah dan sosial di sela-sela kepadatan jadwal. Kekompakan lintas bangsa ini menjadi faktor krusial yang memastikan proses pengawasan bagasi berjalan tanpa kendala berarti.
“Kami di sini salat berjamaah, ngobrol, bercengkerama, dan saling bantu. Walaupun berasal dari negara yang berbeda-beda, semuanya bekerja sama demi kelancaran kedatangan jemaah. Tim bagasi checker semuanya solid. Koordinasi berjalan baik, dan masing-masing sudah tahu apa yang harus dilakukan. Jadi ketika ada kendala di lapangan, bisa langsung dikomunikasikan dan diselesaikan,” pungkas Robby. [ian/MCH]






