Blitar (beritajatim.com) – Harga beras di pasaran Kota Blitar terus merangkak naik bahkan kini telah menembus harga Rp.13.000 per kilogramnya. Hal itu pun memaksa warga mencari alternatif lain yakni beras murah yang kondisinya sedikit kekuningan.
Menurut pedagang beras di Pasar Legi Kota Blitar sejak berapa pekan terakhir, banyak masyarakat yang membeli beras murah dengan harga 10 ribu hingga 11 ribu yang kondisinya sedikit kekuningan dan butir berasnya pecah. Hal itu dilakukan masyarakat demi menekan biaya konsumsi di tengah mahalnya harga beras medium dan premium di pasaran.
“Ya banyak-banyak yang beralih memang karena terpaksa juga kan Harga beras saat ini mahal sampai 12 ribu hingga 13 ribu berarti banyak yang beralih beli beras ke Kuningan yang harganya 9 ribu hingga 10 ribu yang dulunya 10 ribu naik ke 11 ribu sekarang,” kata Khusnul, Pedagang beras Pasar Legi Kota Blitar, Sabtu (11/02/23).
[berita-terkait number=”5″ tag=”beras”]
Rata-rata per hari penjualan beras murah yang kondisinya sedikit kekuningan dan butirannya pecah mencapai 1 kuintal hingga 1,5 kwintal. Jumlah tersebut jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan penjualan beras medium dan premium.
Menurut pedagang, masyarakat kalangan menengah ke bawah banyak yang beralih menggunakan beras murah karena harga beras di kelas medium dan premium terus mengalami peningkatan setiap harinya bahkan saat ini telah mencapai harga tertinggi selama beberapa bulan yakni 13.000 per kilogramnya. “Kalau per hari ya sekitar satu hingga satu setengah kuintal untuk penjualan beras murah yang harganya Rp.9.000 atau Rp.10.000,” imbuhnya.
Selain beralih menggunakan beras yang lebih murah, para konsumen juga banyak yang memilih mengurangi pembelian beras. Menurut pedagang jika saat harga murah dulu para pembeli pembeli beras 35 kg namun kini di saat harga melambung tinggi masyarakat hanya membeli 2 hingga 3 kg beras saja.
Langkah ini dilakukan demi menghemat biaya konsumsi per harinya. Akibat hal tersebut omset penjualan pedagang pun anjlok hingga 50% lebih. “Masyarakat biasanya beli 5 kilogram, sekarang beli dua atau tiga kilogram setiap harinya. Ya mereka berlomba juga karena kalau langsung beli banyak biayanya juga tinggi, akhirnya beli ngecer sedikit-sedikit yang penting tetap bisa makan,” jelasnya.
Meski harganya murah yakni Rp. 9.000 hingga Rp.11.000 per kg nya dan kondisinya sedikit kekuningan, namun jenis beras tersebut masih layak untuk dikonsumsi. Para pedagang pun juga mengeluhkan untuk memperoleh beras murah tersebut karena pasokan dari petani ataupun distributor sangat sedikit.
Para pedagang menjelaskan bila di hari normal mereka bisa memperoleh satu sak karung berisi beras murah namun saat ini jumlah yang dikirim ke pedagang hanya setengahnya.
“Meskipun sedikit kuning dan pecah beras tersebut masih layak dikonsumsi, kami saja juga kesulitan untuk membeli beras murah tersebut meskipun di pasaran memang sangat laku,” pungkasnya.
Tutik salah satu warga mengaku sengaja membeli beras murah di pasaran karena lebih murah. Suaminya yang hanya bekerja sebagai kuli serabutan membuatnya hanya mampu membeli beras murah yang kondisinya sedikit kekuningan dan pecah butirannya.
Ini dilakukan Tutik agar dirinya dan sang suami tetap bisa makan di tengah mahalnya harga beras di pasaran. “Ya kalau saya memilih beli beras murah ini karena uangnya cukup hanya untuk buat yang murah kalau yang bagus tidak mampu,”
Tutik pun mengaku bahwa saat harga murah dulu dirinya lebih memilih beras jenis medium. Namun disaat kondisi harga mahal seperti ini, dirinya beralih memilih membeli beras murah.
Menurutnya beras murah ini juga masih layak untuk dikonsumsi. “Dulu beli medium tapi sekarang milih yang murah saja, supaya bisa tetap bisa makan, ini juga masih layak untuk dikonsumsi,” pungkasnya. (owi/kun)






