Surabaya (beritajatim.com) – Pengurus Provinsi Muaythai Indonesia (MI) Jawa Timur resmi memanaskan mesin persiapan guna menghadapi ajang PON Bela Diri putaran kedua 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Sulawesi Utara. Strategi percepatan pembinaan atlet dilakukan melalui pemusatan latihan daerah (puslatda), kompetisi berjenjang, hingga sistem seleksi berbasis prestasi nasional yang ketat.
Ketua Umum Pengprov MI Jawa Timur, H. Baso Juherman, menegaskan bahwa persiapan dini ini krusial agar Jatim mampu mempertahankan posisi sebagai kekuatan utama muaythai nasional. “Setelah Porprov September lalu, atlet-atlet sudah langsung kami puslatdakan; latihan tetap berjalan secara mandiri dan terkoordinasi,” ujar Baso saat ditemui di Surabaya, Rabu (11/2/2026).
Mengenai teknis pertandingan, Pengprov MI Jatim mendorong agar jumlah nomor yang dipertandingkan tetap konsisten sebanyak 22 kategori seperti pada pelaksanaan PON Aceh-Sumut sebelumnya. Usulan tersebut mencakup kategori Muayboran putra-putri, Muayrobic putra-putri, serta berbagai kelas tanding mulai dari 43 KG hingga kelas berat 71 KG.
Baso menjelaskan bahwa usulan kuota nomor pertandingan ini telah disampaikan secara resmi oleh Ketua Umum PB Muaythai Indonesia kepada Ketua Umum KONI Pusat, Marciano Norman. “Nomor tandingnya kami dorong tetap sama seperti di Aceh dan Sumut, tidak ada pengurangan, agar pembinaan atlet tetap berkesinambungan,” tambahnya.
Dalam menentukan komposisi skuad, MI Jatim menetapkan raihan medali emas pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) sebagai indikator utama kelayakan atlet masuk tim utama. Atlet yang sukses meraih podium tertinggi pada Kejurnas di NTB beberapa bulan lalu dipastikan mendapat rekomendasi kuat untuk mengisi slot persiapan PON.
“Kalau emas di Kejurnas, pasti kami usulkan; dari Porprov juga ada, tapi dasarnya tetap Kejurnas karena pembinaan terus berjalan sampai hari pelaksanaan,” tegas Baso. Selain mengandalkan hasil turnamen besar, Jatim juga terus menghidupkan atmosfer kompetisi lokal melalui gelaran Liga Muaythai yang dilaksanakan setiap tiga bulan.
Liga 1 telah sukses dilaksanakan pada Januari lalu, sementara Liga 2 dijadwalkan bergulir pada April mendatang untuk terus mengasah insting bertarung para atlet. Sistem promosi dan degradasi diterapkan secara ketat dalam liga ini, bahkan membuka kelas terbuka bagi atlet elit untuk bertanding melawan perwakilan dari provinsi lain.
Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa atlet Jawa Timur selalu siap menghadapi tekanan mental dan teknik yang terus berkembang di level nasional. “Ini tantangan sekaligus motivasi, apalagi pesaing terberat kami seperti Jawa Barat rutin menggelar training camp ke luar negeri,” ungkap Baso.
Baso memberikan kesempatan luas bagi atlet baru atau lulusan Porprov untuk menggeser posisi penghuni puslatda jika mampu menunjukkan performa yang lebih unggul. Transparansi dalam seleksi ini diharapkan melahirkan petarung-petarung tangguh yang siap memberikan prestasi tertinggi bagi bumi Majapahit di Sulawesi Utara.
Ia optimis muaythai akan tetap menjadi cabang olahraga andalan Jawa Timur dalam mendulang medali emas pada ajang bela diri paling bergengsi tersebut. “Insyaallah muaythai Jatim siap bersaing dan kembali jadi penyumbang medali utama dengan sistem pembinaan yang telah kami rancang ini,” pungkasnya. [way/beq]






