Malang (beritajatim.com) – Tangis haru mewarnai doa bersama yang digelar keluarga korban tragedi Kanjuruhan, Sabtu (16/9/2023) petang ini. Hujan air mata pun pecah ketika keluarga korban, menyaksikan puing puing bangunan stadion Kanjuruhan yang dirobohkan.
“Kita kecewa karena harapan kami Stadion Kanjuruhan jangan direnovasi sebelum masalah kita selesai dulu. Kalau seperti ini, kami merasa pemerintah berusaha menghilangkan bukti. Kemudian kami melihat pemerintah lebih mementingkan benda mati daripada nyawa anak-anak kami, saudara-saudara kami,” tegas Sunari (64), ayah kandung dari mendiang Mayang Agustin, satu dari 135 korban tewas dalam Tragedi Kanjuruhan, Sabtu (16/9/2023) malam.
“Sampai kapanpun, kami keluarga korban tragedi Kanjuruhan akan tetap menuntut keadilan,” ungkap Sunari.
Sunari mengaku, sejauh ini tidak pernah ada kejelasan bagaimana Stadion Kanjuruhan itu dibongkar dan dirobohkan. kami akan tetap fokus sampai kapanpun. “Kami sudah diajak bicara soal pembongkaran stadion, tapi tidak jelas, tidak jelas itu mengajaknya untuk reunian atau doa bersama. Tapi tahu-tahu ini sudah direnovasi, jadi ini sangat mengecewakan kami,” ujarnya.
Menurut Sunari, pihaknya mengetahui stadion direnovasi baru-baru ini. “Saya terkejut kok bisa direnovasi tapi masalah kita belum selesai. Kemudian Laporan Model B kita juga kandas, kita melihat keadilan ini gimana gitu ya. Kami menginginkan keadilan yang gak muluk-muluk, kami minta polisi yang menembak gas air mata agar jujur pada kami. Cukup dengan ya kami memang bersalah, saya minta maaf dan saya akan bertanggung jawab. Cuma itu saja, gitu aja kok sulit, tinggal kemudian biar pengadilan yang menentukan,” paparnya.
Ditanya apakah tetap menggelar doa bersama ketika pintu 13 akan dirobohkan?
“Tadi saya sudah jelaskan dan sampaikan pada pekerja kalau Pintu 13 dibongkar, maka bisa dikatan saya sudah menyerah dan kalah. Tapi saya memohon agar ini dijadikan museum atau monumen. Museum dan monumen itu penting bagi kami, karena keluarga kami meninggal di sini. Karena keluarga korban berkunjungnya ke sini,” ucap Sunari.
Sementara itu, Bambang Lismono (54), orangtua dari mendiang Putri Lestari (21) warga Desa Turen, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, menitip pesan pada seluruh instansi, seluruh pimpinan, seluruh kedaulatan pemerintah.
“Inilah keluarga korban hingga kini masih menuntut penolakan renovasi, dimana renovasi itu menghilangkan jejak, menghilangkan semua bukti dari kebiadaban. Di sini 135 itu nyawa orang bukan binatang, tolong PSSI, tolong seluruh instansi tolong hentikan sepak bola dulu, tragedi kanjuruhan inilah yang menjadi kasus dalam dunia sepakbola, ini bukan kasus ecek-ecek,” papar Bambang.
Bambang menegaskan, siapapun pejabat yang ada diatas sekalipun, agar membuka mata dan hatinya untuk tegaknya keadilan. “Bukalah hati kalian, ajine roso kalau roso sudah hilang ya beginilah jadinya. Dimana Indonesia,” ujarnya.
Bambang menambahkan, sudah hampir satu tahun keluarga korban tragedi kanjuruhan. “Inilah keluarga korban yang 1 tahun ini sudah menderita, sudah kehilangan anak, gimana kalau ini terjadi di keluarga bapak pimpinan semuanya,” terang Bambang.
Bambang menambahkan, keluarga korban menderita atas tragedi Kanjuruhan. “Apalagi sekarang bangunan di belakang kita (stadion) sudah direnovasi, mana hati nurani kalian. Tolong bapak bapak instansi yang diatas, keluarga korban sudah menderita jangan dibikin menderita lagi,” Bambang mengakhiri. (yog/kun)
BACA JUGA: Devi Athok Kecewa Putusan Tidak Ada Unsur Pembunuhan di Tragedi Kanjuruhan






