Kediri (beritajatim.com) – Suasana sakral menyelimuti Stasiun Ketel Pabrik Gula (PG) Pesantren Baru Kediri saat prosesi tasyakuran slow firing atau yang secara tradisional dikenal dengan istilah Cethik Geni dilaksanakan. Tradisi ini menandai dimulainya pemanasan mesin ketel uap secara bertahap menuju musim giling tahun 2026.
Acara tersebut dihadiri oleh jajaran manajemen PG Pesantren Baru, sejumlah tokoh masyarakat, serta perwakilan kelompok tani yang menjadi mitra strategis pabrik.
General Manager PG Pesantren Baru, Sugondo, menjelaskan bahwa slow firing merupakan tahapan krusial untuk meningkatkan suhu pada boiler (ketel uap) secara perlahan dan merata. Proses ini bukan sekadar teknis operasional, melainkan simbol bahwa seluruh infrastruktur pabrik telah siap menyambut tumpukan tebu petani.
“Kami mohon doa restu kepada masyarakat dan seluruh stakeholder semoga giling 2026 PG Pesantren Baru diberi kelancaran dan sukses,” harap Sugondo.
Ia menambahkan bahwa setelah tradisi ini, puncak rangkaian selamatan akan dilanjutkan dengan resepsi Tebu Manten yang dijadwalkan pada 5 Mei 2026 mendatang.
Optimisme tinggi juga terpancar dari sisi ketersediaan bahan baku. Manajer Tanaman PG Pesantren Baru, Chandra Sukmana, memaparkan target ambisius yang telah dicanangkan untuk musim giling tahun ini.
Pihak pabrik memproyeksikan bakal menggiling sebanyak 854.130 ton tebu dengan target rendemen sebesar 7,5 persen. Dari angka tersebut, diharapkan total produksi gula dapat mencapai 64.778,76 ton.
Untuk mencapai angka tersebut, manajemen telah melakukan koordinasi intensif dengan para petani guna memastikan kualitas tebu yang masuk ke meja giling memenuhi kriteria MBS (Manis, Bersih, dan Segar). Kesepakatan ini menjadi kunci utama agar hasil produksi gula bisa maksimal dan memberikan keuntungan yang adil bagi kedua belah pihak. “Kami berharap gotong royong dengan petani, masyarakat, serta stakeholder bisa menyukseskan giling 2026,” ujar Chandra.
Rangkaian tradisi Cethik Geni ini menegaskan bahwa sinergi antara industri dan kearifan lokal tetap terjaga di Kediri. Dengan mesin yang mulai dihangatkan dan komitmen kualitas bahan baku yang dijaga, PG Pesantren Baru bersiap menggerakkan roda ekonomi daerah melalui produksi gula nasional yang berkelanjutan. Sepertinya suasana di sekitar Pesantren akan mulai ramai dengan hiruk-pikuk truk tebu dalam waktu dekat. [nm/kun]






