Saat strategi dan taktik tak cukup untuk memenangi sebuah pertandingan sepak bola, harapan terakhir ada pada campur tangun ilahiah. Divine intervention.
Dan saat Andhika Ramadhani menggagalkan eksekusi penalti Dedik Setiawan yang senantiasa akrab dengan julukan Drogba, nama ujung tombak Chelsea asal Pantai Gading yang mengerikan itu, pendukung Persebaya merasa Tuhan tak menakdirkan mereka untuk kalah dari Arema, di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Rabu (27/3/2024) malam.
Slogan ‘Persebaya Bolo Tuhan’ menggema, setelah Persebaya mengalahkan Arema 1-0 dalam pertandingan pekan ke-30 Liga 1 Musim 2023-24. Foto Presiden Persebaya Azrul Ananda mengenakan kaos bertuliskan slogan tersebut dengan foto Andhika berpelukan dengan sesama pemain Persebaya beredar di media sosial.
‘Persebaya Bolo Tuhan’ sebenarnya adalah slogan yang jamak di kalangan Bonek, pada saat Persebaya terancam punah karena krisis dualisme menghadapi klub kloningan yang direstui PSSI.
Melawan kekuatan yang menguasai sepak bola di Indonesia, ‘Persebaya Bolo Tuhan’ dan slogan ‘Laa Ghaaliba Illa Billah’ (tiada kemenangan kecuali dengan pertolongan Allah) melandasi keyakinan Bonek bahwa kemenangan dan kekalahan tak hanya bergantung pada skenario manusia. Ada ikhtiar dan doa yang berujung pada harapan.
Keputusan-keputusan ajaib wasit Gedion Dapaherang dalam pertandingan malam itu menjadikan slogan tersebut relevan. Persebaya seperti berhadapan dengan 12 pemain di atas lapangan, ketika dia membuat keputusan krusial yang merugikan Persebaya, karena berpotensi mengubah hasil pertandingan.
Menit 62, bola pantul serangan Arema yang mengenai badan Kadek Raditya di kotak penalti berbuah hukuman. Tayangan ulang di televisi jelas memperlihatkan tidak sekali pun bola yang ditendang pemain Arema Samuel Balinsa menyentuh tangan Kadek.
Keputusan ini memperkokoh posisi Arema sebagai tim yang paling banyak memperoleh hadiah penalti pada kompetisi Liga 1 2023-24. Total 12 kali Arema mendapatkan keuntungan dari titik 12 pas.
Bagi Persebaya, dihukum seperti itu bukan hal baru saat menghadapi Arema. Setidaknya dalam empat pertandingan terakhir (termasuk pertandingan di I Wayan Dipta malam itu), tiga kali Persebaya diganjar hukuman penalti.
Salah satu hukuman penalti yang paling dikenang Bonek adalah saat Persebaya di bawah asuhan Danurwindo kalah 0-1 di Kanjuruhan pada Liga Indonesia muim 2009-2010, Minggu (21/2/2010) malam.
Bukan Pierre Njanka, si pencetak gol kemenangan Arema, yang bakal diingat oleh Bonek. Namun wasit Olehadi yang bakal direkam selamanya karena memberikan kesempatan kepada Njanka untuk mencetak gol dengan menunjuk titik putih pada masa injury time.
Empat belas tahun silam, kiper Muhammad Syaifuddin gagal menepis bola yang dilesakkan Njaka. Andhika tak ingin mengulangi kesialan seniornya. Mulutnya berkomat-kamit mengucapkan doa pada malam bulan Ramadan.
Para pemain dan ofisial di bangku cadangan Persebaya berharap-harap cemas. Pelatih Persebaya Paul Munster berdiri tegak di tepi lapangan, mengkalkulasi semua opsi. Dan saat ini, ia tahu, satu-satunya opsi penyelamatan hanya ada pada Andhika. Penalti memang ironi sekaligus anomali dalam pertandingan sepak bola. Momentum kerja sama tim selama 90 menit digantikan oleh pertarungan psikologis dua individu: penjaga gawang dan penendang.
Andhika menatap tajam Dedik yang sudah menciptakan sembilan gol dalam pertandingan-pertandingan sebelumnya. Ia terbang setelah berhasil membaca arah bola yang ditendang Dedik ke sisi kirinya. Tiga kali Atema mendapat hadiah penalti. Tiga kali juga Persebaya mengalahkan mereka.
Andhika mengacungkan telunjuknya ke atas. Sebuah rasa syukur terhadap intervensi ilahiah.
Persebaya bolo Tuhan. Persebaya berkawan dengan penguasa alam semesta. Namun semua tahu, pertandingan sepak bola tak dimenangi dengan slogan.
Tiga kata itu memang meniupkan semangat sekaligus menghardik semua pihak yang ingin mengalahkan Persebaya dengan cara-cara yang tak patut. Juga menjadi komoditas kaos yang laris manis terjual di Persebaya Store.
Namun berkah Tuhan tidak diturunkan untuk mereka yang pasrah dan hanya mengharapkan keajaiban. Clive Staples Lewis, seorang penulis dan teolog, menyebut keajaiban tak akan menentang hukum alam. Ia bekerja selaras dengan hukum alam, dan hukum alam menghendaki kerja keras, kecerdasan dalam bertindak, dan keawasan dalam berpikir untuk meneguhkan keberhasilan.
Dalam situasi kondisi persepakbolaan Indonesia seperti ini, Persebaya harus berhenti mengharapkan keajaiban dan kebaikan takdir. Nasib baik tak hanya berpihak pada orang-orang baik, tapi pada orang-orang yang bersiap menghadapi segala kemungkinan, termasuk yang terburuk.
Bukan sekali ini saja Persebaya dirugikan oleh keputusan-keputusan ajaib pengadil di atas lapangan. Buruk sangka tak akan mengubah angka di papan skor. Hal terbaik adalah mempersiapkan diri sebaik mungkin menghadapi pertandingan.
Sepak bola modern menghadirkan kompleksitas, dan hasil akhir kompetisi tidak hanya ditentukan oleh seorang pelatih, sederet ofisial, dan sekelompok pemain yang bertanding. Stabilitas tim diawali dari pemilihan personel mulai dari jajaran manajemen, tim kepelatihan, hingga skuat pemain.
Kegagalan demi kegagalan Persebaya memenuhi target tinggi yang dicanangkan sendiri setiap musim, menunjukkan ada persoalan yang muncul bahkan sebelum kompetisi dimulai. Tim ini tidak memiliki kohesi, sehingga selalu berada pada situasi sulit seperti terancam masuk dalam zona degradasi selama beberapa pekan terakhir.
Kompetisi musim 2023-2024 segera berakhir. Tinggal empat pertandingan tersisa. Berada di peringkat 10 dengan mengemas 39 angka, opsi terbaik Persebaya hari ini adalah memastikan terhindar dari degradasi. Kemenangan atas Arema memang menghadirkan ‘magic number 8’: berjarak delapan angka dari peringkat empat besar dan delapan angka dari peringkat tiga kecil (zona degradasi).
Namun empat pertandingan tersisa tak pernah mudah. Tiga kali laga kandang Persebaya akan menghadapi Dewa United, Bali United, dan Persik Kediri. Sementara satu pertandingan tandang digelar di Bandung menghadapi Persib. Semua tim tersebut masih berpeluang lolos ke Babak Empat Besar, sehingga bakal menghadirkan perlawanan yang sengit terhadap Persebaya.
Pertandingan pekan ke-31 akan mulai digelar lagi pada 15 April 2024. Tak elok hanya berharap kebaikan Tuhan. Saatnya mengakhiri kompetisi dengan merapikan taktik dan membenahi strategi. [wir]






