Jember (beritajatim.com) – Saat ini sejumlah negara di dunia tengah terlibat perang satu dengan yang lain. Sebagai negara yang mengedepankan perdamaian dunia, Indonesia memiiki posisi strategis untuk mengantisipasi krisis pangan akibat perang tersebut.
“Kita tahu sekarang kondisi global sedang tidak baik-baik saja. Di beberapa negara terjadi perang. Ya sudahlah, biar negara lain berperang, Indonesia menyiapkan makannya saja. Kita harus kuat dengan ketahanan pangan kita,” kata Bupati Hendy Siswanto, dalam peringatan Hari Krida Pertanian ke-52, di pabrik pupuk organik, Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (10/8/2024).
“Diprediksi pada 2050 akan terjadi krisis pangan. Saya minta anda (petani) harus punya semangat untuk bersedekah ilmu dan mempertahankan lahan agar jangan sampai beralih fungsi. Tingkatkan terus hasil pertanian,” kata Hendy.
Hendy menyadari upaya mempertahankan 86 ribu hektare akan sia-sia tanpa bantuan petani, penyuluh, akademisi, dan pemangku kepentingan pertanian. “Menjaga itu esensinya memakmurkan dan menyuburkan lahan yang kita miliki,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Jember siap berkolaborasi dengan petani untuk menyiapkan semua kebutuhan, mulai dari pembiayaan, hasil pertanian, hingga pembeli. Hendy ingin ada kesinambungan produksi pertanian, sehingga bisa memakmurkan petani.
“Kita punya kewajiban moral. Ayo kita dorong pertanian dengan segala macam problemnya, pekerjaan rumahnya. Harga tidak bisa dimainkan di lapangan, sehingga ketika jadi petani mesti untung,” kata Hendy.
Hendy ingin para pembeli komoditas pertanian bisa memberikan harga bagus kepada petani. “Sehingga petani bisa mendapatkan hasil, dan tidak ada keraguan lagi untuk menanam maupun jadi peternak,” katanya.
Menguntungkannya profesi petani ini, menurut Hendy, akan bisa menarik anak muda untuk terjun ke sawah. “Di Jepang, mending jadi petani daripada pengembang perumahan, karena untungnya lebih banyak petani. Kalau di sini real estatenya banyak, tapi petani yang digusur real estate. Tapi insyaallah tak akan terjadi lagi, karena kita sudah punya Rancangan Peraturan Daerah RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah),” katanya.
Lahan sawah seluas 86 ribu hektare sudah dilindungi regulasi. “Baru sekarang ada regulasi yang melindungi 86 ribu hektare sawah, terbesar ketiga se-Indonesia Jember punya lahan pertanian,” kata Hendy.
Hendy menegaskan, komitmen perlindungan terhadap lahan pertanian bukan hanya di atas kertas. “Kalau petani tidak sejahtera, siapa mau mempertahankan lahan itu,” katanya. Dia tidak ingin kesejahteraan dinikmati hanya oleh ketua kelompok tani maupun gabungan kelompok tani.
Hendy meminta petani tidak terkotak-kotak. “Mari kita bersama-sama. Ketua gapoktan mengayomi anggotanya. Mari kita saling berbagi, saling menolong,” katanya. Semua faktor risiko selama beberapa bulan harus dihadapi bersama dengan bergotong royong.
Selama 3,5 tahun masa pemerintahannya, Hendy memastikan sektor pertanian mendapatkan perhatian. “Saya sudah umumkan pada 2021, bahwa Jember tidak akan pernah berubah dari kabupaten yang berorientasi pertanian. Itu jadi sumpah kami. Mudah-mudahan diikuti yang sama berikutnya-berikutnya nanti,” katanya.
“Insyaallah, menuju 2050, Jember akan menjadi leader di Indonesia. Kabupaten yang punya ketahanan pangan yang tangguh untuk Indionesia,” kata Hendy. [wir]






