Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengeluarkan lima butir imbauan untuk umat Islam dalam memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI.
KUMPULAN BERITA sound horeg jember
Dalam pertemuan itu, Wakil Ketua Komisi A Holil Asyari sempat menegur Topan, Sekretaris JSSC, agar menghormati Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ini gara-gara saat diberi kesempatan bicara, Topan menyebut MUI panitia surga.
Wakil Bupati Djoko Susanto ingin pemerintah daerah satu suara dalam menyikapi fenomena sound horeg di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Wakil Bupati 2016-2021 Abdul Muqit Arief yang akrab disapa Kiai Muqit meragukan efektivitas pembatasan terhadap sound horeg di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Dua orang kiai yang pernah menjabat wakil bupati angkat bicara soal kontroversi sound horeg di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Mereka berpendapat sound horeg lebih banyak membawa mudarat ketimbang manfaat.
Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat Kabupaten Jember meminta penikmat dan pelaku sound horeg menghargai kritik publik. Mereka juga meminta pemerintah daerah dan kepolisian daerah bersikap tegas.
Sound horeg bukanlah sekadar “musik keras”. Ia adalah kombinasi dari sound system bertenaga tinggi, dentuman bass ekstrem, dan sering kali dikemas dalam konteks hajatan, arak-arakan, hingga konvoi jalanan yang tidak terkendali. Volume suara yang bisa menembus 135 desibel. Setara dengan suara pesawat jet dari jarak dekat, menjadikannya tidak hanya mengganggu, tetapi juga berbahaya secara medis.
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur KH Abdul Halim Subahar mengkritik sikap diam Bupati Jember Muhammad Fawait. “Sikap diam menjadi pertanda lemahnya kepemimpinan,” katanya.
“Pertanyaannya kita atur lewat apa? Apa lewat peraturan daerah atau lewat peraturan bupati? Pada titik ini kita ketahui mengetahui bersama, sound horeg adalah salah satu materi dalam pilkada kemarin,” kata Wakil Ketua Bapemperda DPRD Jember Tabroni.
Sound horeg sempat bikin M. Holil Asyari, Wakil Ketua Komisi A DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, dari Partai Golongan Karya, deg-degan. Ia mendukung fatwa Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur yang mengharamkan sound horeg.









