Bondowoso (beritajatim.com) – Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Bondowoso, Hery Kusdaryanto menegaskan bahwa penguatan Unesco Global Geopark tidak hanya bertumpu pada lanskap geologi, tetapi juga pada pelestarian warisan budaya dan tinggalan megalitik yang menjadi identitas daerah.
Ia menyebut Bondowoso sebagai “emas peradaban” yang belum sepenuhnya dikelola optimal. Ia mengingatkan bahwa sejak 1898 peneliti Belanda telah mencatat kekayaan tinggalan megalitik Bondowoso sebagai salah satu yang terlengkap di Indonesia.
“Variasinya luar biasa, mulai dari situs pemujaan, penguburan, hingga permukiman. Kita tua secara peradaban, dan ketuaan itu harus lestari untuk anak cucu,” ujarnya.
Menurut Hery, penguatan Geopark harus berbasis sinergi lintas sektor serta pelibatan masyarakat. Revitalisasi situs megalitik di desa-desa dilakukan melalui konsep museum terbuka (open museum) berbasis masyarakat.
Menhir, kubur batu, dan batu ritual yang tersebar direvitalisasi sederhana agar menjadi tujuan wisata edukatif.
Langkah tersebut dinilai memberi dua dampak sekaligus: pelestarian cagar budaya dan penguatan ekonomi lokal melalui paket kunjungan wisata yang terintegrasi dengan seni tradisi dan kuliner khas.
Selain warisan benda, TACB juga mendorong perlindungan Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Pada 2025, ada 3 yang dinobatkan dalam WBTb yakni Tape Bondowoso, Topeng Konah, dan tradisi Ngideri atau slametan gugur gunung. “Perlindungan ini penting agar identitas kita tidak punah dan tidak diklaim pihak lain,” tegasnya. (awi/but)






