Jombang (beritajatim.com) – Survei yang dilakukan Lingkar Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebutkan sebanyak 57,9% pemilih rasional yang terafiliasi dengan NU, memilih pasangan calon (paslon) 02, H Warsubi-KH Salmanudin Yazid (Warsubi-Salman) atau WarSa.
Sedangkan warga NU yang memilih paslon 01, Mundjidah Wahab-Sumrambah sebanyak 26,1%. Setali tiga uang dengan NU, warga Muhammadiyah juga mayoritas menjatuhkan pilihannya untuk paslon 02. Nilainya 72,7%. Sedangkan untuk paslon Mundjidah-Sumrambah 0,0%. Sedangkan rahasia alias tidak tahu sebesar 27,3%.
Bagaimana dengan ormas Shiddiyyah? Ormas ini memilih Warsubi-Salman sebesar 42,9%, kemudian paslon 01 sebesar 0,0% serta rahasia alias tidak tahun mencapai 57,1%. “Yang menarik adalah, pemilih dari ormas Muhammdiyah maupun Shiddiqiyyah belum ada yang bersikap untuk memilih paslon 01,” ungkap Peneliti LSI Denny JA, Fadhli Fakhri Fauzan.
“Pertimbangan emosionalitas dalam memilih pemimpin daerah seperti yang selama ini terjadi, disadari betul oleh pengikut ormas hanya melahirkan pemimpin yang tidak amanah dan abai pada penderitaan masyarakat. Seperti kemiskinan yang bertambah, infrastruktur tidak dibenahi, pembangunan yang lebih terpusat di kota hingga pengangguran yang meluas,” jelasnya.
Untuk diketahui, survei dilakukan pada tanggal 16-22 Oktober 2024 dengan menggunakan metodologi multistage random sampling melalui wawancara tatap muka kepada 440 responden dengan margin of error kurang lebih 4,8 persen.
Sementara itu, menurut Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Profesor Wahyudi Winarjo, kecenderungan preferensi politik bukan berasal dari latar belakang keluarga dan organisasi calonnya saja.
Banyak faktor yang mempengaruhi pemilih diantaranya adalah jumlah partai pengusung dan pendukung, track record calon dan koherensi visi misi.
“Selain itu, faktor program Paslon ini juga sangat mempengaruhi preferensi pemilih. Program Paslon ini akan dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat atau felt need,” paparnya, Jumat (15/11/2024).
Pria yang saat ini menjabat sebagai wakil direktur II Pascasarjana UMM ini menambahkan, pola efektivitas kampanye Paslon akan menyumbangkan faktor positif pada preferensi pemilih.
“Jika saat kampanye Paslon berjalan mendekat dengan masyarakat, kemudian mereka menyosialisasikan program yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat maka ini bisa menjadi daya tarik tersendiri,” katanya.
“Jangan lupa juga, dinamika atau perkembangan situasi politik yang berkembang juga akan mempengaruhi preferensi politik,” pungkas Profesor Wahyudi Winarjo. [suf]






