Ringkasan Berita:
- Kemarau panjang membuat debit air Bendungan Sangiran di Ngawi menyusut hingga sekitar 20 persen atau 2 juta meter kubik.
- Dasar Bendungan Sangiran yang mengering dimanfaatkan sejumlah petani untuk menanam padi dan jagung secara dadakan.
- Bendungan Sangiran selama ini menjadi salah satu sumber irigasi bagi lahan pertanian di Bringin, Karangjati, dan Pangkur.
- Penyusutan air juga terjadi di Waduk Pondok dan Waduk Kedungbendo sehingga petani perlu menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan air.
Ngawi (beritajatim.com) – Kemarau panjang membuat debit air Bendungan Sangiran di Desa Sumberbening, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, terus menyusut. Di tengah kondisi tersebut, dasar bendungan yang mulai mengering justru dimanfaatkan sejumlah petani sebagai ladang tanam padi dan jagung dadakan.
Pantauan di Bendungan Sangiran pada Kamis (10/9/2026) siang menunjukkan tanah di dasar bendungan mulai mengering dan retak-retak. Air yang tersisa diperkirakan hanya sekitar 20 persen atau 2 juta meter kubik dari kapasitas total bendungan yang mencapai 10 juta meter kubik.
Surutnya air Bendungan Sangiran terjadi sejak akhir Juni 2026. Bendungan tersebut selama ini menjadi salah satu sumber pasokan irigasi bagi lahan pertanian di tiga kecamatan, yakni Bringin, Karangjati, dan Pangkur.
Namun, seiring semakin rendahnya volume air akibat kemarau panjang, sisa air yang masih berada di Bendungan Sangiran kini tidak lagi dialirkan untuk irigasi. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keamanan struktur bendungan.
Di tengah terbatasnya pasokan air untuk lahan pertanian, sejumlah warga justru memanfaatkan area dasar bendungan yang mengering untuk bercocok tanam. Mereka mulai menanam padi dan jagung sejak permukaan air menyusut pada akhir Juni lalu.
Bagi petani, lahan dasar bendungan menjadi alternatif untuk tetap mendapatkan hasil pertanian ketika lahan yang biasa mereka garap mulai kekurangan air. Hasil panen memang tidak sebesar saat kondisi normal, tetapi cukup membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari selama musim kemarau.
“Ya kalau musim hujan kan airnya penuh sampai sini tidak bisa ditanami. Kini kemarau, kira tanami padi dan jagung. Banyak warga sini yang menanam di bendungan ini,” kata Jayem, salah seorang petani.
Petani lainnya, Sukarman, mengatakan kondisi lahan pertanian mereka yang mengering membuat area Bendungan Sangiran menjadi pilihan untuk tetap bercocok tanam.
“Ini kan ladang-ladang kita kering. Kita menanam di area bendungan, kita tanam padi dan jagung. Hasilnya lumayan untuk menyambung hidup saat kemarau,” ujar Sukarman.
Fenomena dasar Bendungan Sangiran yang berubah menjadi lahan pertanian sementara tersebut menggambarkan cara petani beradaptasi terhadap perubahan kondisi sumber air selama musim kemarau. Ketika lahan pertanian reguler tidak lagi mendapatkan pasokan air yang cukup, area yang sebelumnya tergenang dimanfaatkan setelah permukaan air turun.
Meski demikian, lahan pertanian di dasar bendungan bukan merupakan lahan yang dapat digunakan sepanjang tahun. Aktivitas bercocok tanam sangat bergantung pada cuaca dan volume tampungan. Ketika musim hujan tiba dan debit air kembali meningkat, area tersebut berpotensi kembali tergenang sehingga tidak dapat digunakan sebagai lahan pertanian.
Sementara itu, petani yang selama ini mengandalkan pasokan irigasi dari Bendungan Sangiran diminta mengikuti pola tanam yang disarankan. Penyesuaian pola tanam diperlukan untuk mengantisipasi keterbatasan ketersediaan air selama kemarau panjang.
Kondisi serupa juga terjadi di dua waduk lain di Kabupaten Ngawi, yakni Waduk Pondok dan Waduk Kedungbendo. Volume air di kedua waduk tersebut turut mengalami penyusutan akibat kemarau yang berlangsung panjang.
Dengan kondisi sumber air yang semakin terbatas, pengaturan pola tanam menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko kekurangan air bagi sektor pertanian di Ngawi. Petani di wilayah yang mendapat pasokan dari bendungan dan waduk perlu menyesuaikan waktu serta jenis tanaman dengan ketersediaan air hingga musim hujan kembali tiba. [fiq/beq]






