Lumajang (beritajatim.com) – Sebanyak 419 rumah hunian tetap (Huntap) bagi penyintas bencana Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, terbengkalai bahkan ada yang mengalami kerusakan karena ditinggal pemiliknya.
Sebelumnya, sebanyak 987 unit rumah hunian tetap (Huntap) di kawasan Bumi Semeru Damai (BSD) Desa Sumbermujur, Kecamatan Candipuro, dilaporkan tidak dihuni oleh pemiliknya.
Padahal, pemerintah telah membangun sebanyak 1.951 unit huntap untuk merelokasi warga yang rumahnya rusak karena terdampak erupsi Gunung Semeru pada tahun 2021.
Saat itu, pemerintah telah memberikan hak guna pakai agar para penyintas bisa pindah ke kawasan BSD di Desa Sumbermujur untuk menempati hunian relokasi yang berada di zona aman.
Namun, berdasarkan data Dinas Permukiman Kawasan Perumahan (DPKP) Lumajang, dari total 1.951 unit hunian, hanya 964 rumah yang memiliki penghuni tetap.
Sedangkan, sisa sebanyak 987 unit tercatat tidak memiliki penghuni tetap hingga ada yang memang bener-bener kosong total karena ditinggal pemilik sahnya.
Adapun perinciannya, 419 rumah dibiarkan kosong, 42 unit ditinggal merantau, serta 41 telah ditempati orang lain hingga 27 unit dijadikan posko organisasi perangkat daerah.
Selain itu, terdapat juga sebanyak 458 rumah yang hanya dijadikan rumah singgah atau sengaja ditempati berkala oleh para penyintas.
Akibat ditinggal pemiliknya, kondisi rumah yang dibiarkan kosong tampak terbengkalai, dipenuhi semak belukar, hingga mengalami kerusakan.
Belakangan diketahui, para penyintas memilih meninggalkan rumah mereka lantaran kesulitan ekonomi dan minimnya lapangan kerja di kawasan relokasi tersebut.
Keresahan itu salah satunya disampaikan Lastini, seorang penyintas yang masih bisa bertahan menempati hunian relokasi dari pemerintah.
Menurutnya, selain tidak adanya peluang pekerjaan, perputaran ekonomi di kawasan relokasi tersebut juga terkesan sangat lambat.
Bahkan, tidak sedikit penyintas yang sebelumnya sudah dilokasi terpaksa memilih kembali ke kampung halamanya agar bisa menyambung hidup.
“Kesulitannya di sini nggak ada pekerjaan, dan memang nggak ada,” ucap Lastini di Lumajang, Kamis (29/10/2026).
Kediaman dan kampung halaman Lastini sebelumnya berada di kawasan Dusun Kebondeli yang sudah masuk dalam zona merah bencana Semeru.
Saat ini, ia merupakan satu dari ratusan penyintas lain yang masih memilih bertahan di kawasan relokasi marena sudah tidak memiliki tempat tinggal lain.
Bahkan, suami Lastini harus pergi merantau ke luar daerah untuk bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya di kawasan relokasi.
“Ini buat bertahan ya dari suami saya kerja di Sumatera. Karena di sini nggak ada sama sekali (pekerjaan). Harapan saya banyak, mau buka toko sendiri, kalau ke pemerintah ya soal pekerjaan itu,” keluhnya.
Kepala Desa Sumbermujur Yayuk Sri Rahayu menjelaskan, sulitnya akses terhadap fasilitas kesehatan juga menjadi alasan yang membuat para penyintas memilih pergi dari tempat relokasi.
Sebab, saat ini di kawasan BSD hanya tersedia fasilitas kesehatan berupa Puskesmas Pembantu (Pustu) yang tidak menyediakan layanan rawat inap.
“Keluhan lain, adalah mengenai kesehatan, jaraknya jauh sekali mau ke Puskesmas, di sini hanya ada Puskesmas Pembantu, jadi tidak ada rawat inapnya,” ungkapnya. (has/ian)






