Surabaya (beritajatim.com) – Komunitas IT Surabaya Dev mendorong talenta digital di Prodi Sistekin Untag Surabaya untuk tidak sekadar menjadi konsumen, tapi juga pencipta teknologi AI.
Dosen dan Tech Creator, Sandhika Galih membeberkan empat pilar wajib bagi mahasiswa sebelum terjun ke industri IT. Yakni hard skill, soft skill, penguasaan AI, dan personal branding.
Sandhika menekankan shifting peran. Menurutnya, anak IT harus naik level dari pengguna ke pengembang.
“Saya sarankan mereka enggak cuma jadi pengguna AI. Tapi, coba untuk jadi pembuat software yang memanfaatkan AI, bahkan lebih lanjut lagi mereka jadi bikin AI-nya,” ujar Sandhika, Sabtu (15/11/2025).
Membuat AI sendiri, lanjutnya, jauh lebih unggul ketimbang bergantung pada produk perusahaan lain. Keunggulannya ada pada aspek sekuriti dan keandalan data yang dilatih secara mandiri.
Di sisi lain, meski mendorong eksplorasi, Sandhika juga mengingatkan agar mahasiswa tidak percaya 100 persen pada hasil AI.
“Jangan langsung percaya. AI itu cepat, tapi kadang ada halusinasi, kadang ada bias. Itu harus cek dan recheck lagi,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Prodi Sistekin Untag Surabaya, Ardy Januantoro mengamini. Ia meminta mahasiswa Sistekin untuk terus berkembang, namun tidak over-depend pada AI.
“Jangan selalu tergantung dengan AI. Butuh skill dari manusianya sendiri untuk mengevaluasi hasil AI,” tandas Ardy.
Sekadar informasi, Surabaya Dev merayakan ulang tahunnya ke-11. Acara digelar di Kampus Untag Surabaya berkolaborasi dengan Prodi Sistekin. Acara ini dihadiri oleh sekitar 450 peserta.
Selain Sandhika Galih, Fullstack Developer Nusendra Hanggarawan juga turut berbagi perspektif developer dalam acara tersebut. [ipl/ted]






