Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Ciputra (UC) Surabaya bakal mengukuhkan tiga guru besar, Kamis (30/4/2026). Hal ini sebagai respons krisis identitas ruang wisata dan risiko kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang menghantui Indonesia.
Rektor UC Surabaya, Prof. Wirawan Endro Dwi Radianto mengatakan, pengukuhan ini menjadi momentum penguatan peran akademik dalam menghasilkan solusi nyata atas berbagai perubahan zaman yang sangat cepat.
“Pengukuhan tiga guru besar ini menjadi langkah penting dalam memperkuat peran universitas agar tetap relevan dengan tantangan zaman,” ungkap Wirawan, Selasa (28/4/2026).
Ia berharap para profesor mampu menjadi penggerak perubahan yang memberikan dampak luas serta mencetak generasi pemimpin masa depan yang kompeten di bidangnya.
“Saya berharap para guru besar tidak hanya melahirkan gagasan, tetapi juga mampu membentuk generasi pemimpin masa depan,” imbuhnya.
Guru Besar Bidang Desain dan Perilaku, Astrid, menilai banyak kawasan komersial lokal kehilangan jati diri sehingga sulit bersaing sebagai destinasi wisata berkelas di pasar global.
“Banyak ruang komersial tradisional kita berkembang, tetapi belum memiliki identitas yang jelas. Akibatnya terlihat serupa,” kata Astrid saat jumpa pers.
Ia menekankan bahwa kekuatan pariwisata sebenarnya terletak pada perpaduan aktivitas dan budaya lokal yang menjadi nyawa dari sebuah ruang publik.
“Wisatawan saat ini tidak hanya mencari tempat, tapi pengalaman. Pengalaman itu lahir dari interaksi manusia,” lanjutnya.
Sementara itu, Guru Besar Bidang Sains Data, Trianggoro Wiradinata mengungkap kesenjangan besar antara tingginya pengguna teknologi secara personal dengan kesiapan organisasi di Indonesia.
“Sebanyak 92 persen individu sudah menggunakan AI, tetapi adopsi di tingkat organisasi baru sekitar 47 persen. Kita belum siap mengelola,” jelas Trianggoro.
Ia memperingatkan kemunculan fenomena pembebanan kognitif yang berpotensi melumpuhkan kemampuan analitis manusia jika terus bergantung pada bantuan mesin tanpa kendali.
“AI tidak akan menggantikan manusia, tetapi manusia yang menggunakan AI akan menggantikan mereka yang tidak,” tegasnya.
Sedangkan Guru Besar Bidang Business Intelligence, Adi Suryaputra mengkhawatirkan pergeseran peran manusia yang mulai menyerahkan seluruh kendali pengambilan keputusan penting kepada sistem otomatis.
“Bahaya AI bukan salah hitung, tetapi saat manusia berhenti berpikir dan menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada sistem,” ujar Adi.
Menurutnya, teknologi ini hanya mampu melakukan prediksi berdasarkan data namun tidak memiliki pemahaman konteks sosial maupun tanggung jawab moral yang nyata.
“AI dapat menghitung dan memprediksi, tetapi tidak memahami dan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban,” pungkasnya. [ipl/but]






