Mojokerto (beritajatim.com) – Terletak di Jalan Raya Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto tepat di depan Universitas Islam Majapahit (Unim), membuat galeri kerajinan limbah kayu ini mudah dicari.
Iya Rumah Edukasi Limbah Kayu Sugaly Art adalah rumah edukasi limbah kayu milik Agus Suyono (48).
Warga Desa Gebang Malang, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto ini mendirikan galeri di jalan provinsi ini sejak awal tahun 2013 lalu. Sugaly Art yang buka setiap hari pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 16.00 WIB ini, menjual beragam karya seni lukis dan kerajinan kayu.
Di bagian belakang galeri, juga terdapat bengkel kerajinan kayu milik bapak tiga anak ini. Dibantu dua karyawannya, Agus menghasilkan sejumlah kerajinan kayu daur ulang bernilai tinggi. Seperti lukisan para tokoh, kaligrafi ukiran kayu, produk souvenir, alat peraga pendidikan, piala, mainan edukasi hingga mebel unik.
Lukisan naturalis cat minyak 130 x 90 cm Rp2,5 juta sampai Rp3 juta dan lukisan tokoh 90 x 60 cm Rp4 juta sampai Rp5 juta. Mainan edukasi dan alat peraga pendidikan, ia memanfaatkan kayu pinus berupa palet bekas dan papan kayu MDF.
Sedangkan kerajinan lainnya ia menggunakan kayu jati, sengon, sonokeling, nangka, trembesi dan gembilina. Tak jarang, ia harus mencari kayu daur ulang tersebut dari sejumlah daerah. Mulai dari Kecamatan Pacet, Trawas hingga luar kota, seperti Kota Batu, Malang dan Blitar.
Saat masuk galeri milik Agus, miniatur Candi Borobudur menyambut para pengunjung yang datang. Karya seni berbahan kayu pinus seluas 125 x 125 cm dan tinggi 43 cm ini dibuat Agus selama 2,5 bulan dan dibanderol dengan harga Rp10 juta.
“Untuk menghasilkan warna hitam, saya bakar permukaannya, lalu digosok halus dan dilapisi pernis. Miniatur Candi Borobudur ini menggunakan potongan kayu sisa produksi alat peraga pendidikan dan mainan edukasi,” ungkapnya, Selasa (24/1/2023).
Semua kayu dimanfaatkan Agus sehingga tidak ada yang dibuang. Ia pun memulai ceritanya, ia mulai terjun di dunia kerajinan daur ulang limbah kayu sejak 22 tahun lalu. Galeri Sugaly Art dirintis Agus dengan menjadi pelukis keliling, bekerja di bengkel cat mobil.
“Saya juga memberi les privat anak-anak pengusaha keturunan China. Saat itu saya hanya punya uang Rp10 ribu, yang Rp7.500 saya belikan kayu untuk membuat sangkar burung. Sisanya saya berikan istri untuk beli beras,” ujarnya.
Empat hari, ia untuk membuat sebuah sangkar burung dan dijual laku Rp20 ribu. Sehingga ia memilih hanya melayani reparasi sangkar burung dengan upah antara Rp25 ribu sampai Rp40 ribu. Ia juga mulai menerima permintaan melukis sosok dan kaligrafi masjid.
“Kemudian saya melukis, mural di sekolah-sekolah masih manual. Setelah mengenal alat listrik, saya mulai menyisihkan untuk membeli peralatan listrik. Saya buka pelatihan, saya tularkan ilmu saya. Dulu saya punya enam karyawan, sekarang hanya dua orang,” katanya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”limbah-kayu”]
Saat ini, ada delapan anak asuhnya yang sudah bisa mewarisi ilmunya. Saat kewalahan, Agus memberikan orderan pesanan pelanggan tersebut kepada anak asuhnya. Selain kewalahan karena sudah tidak ada karyawan, juga karena peralatan yang tidak ada karena dicuri sebulan yang lalu.
“Iya (pencurian) maksud saya menolong. Ada anak katanya anak Pacet, jatuh di depan galeri saya bawa rongsokan (barang bekas). Saya tolong, saya kasih uang Rp200 ribu buat ongkos pulang katanya mau pulang ke Tuban. Saya suruh balik lagi kalau mau kerja di sini,” tuturnya.
Seminggu kemudian balik ke galeri dan menerima tawaran untuk bekerja. Tapi setelah dipercaya, lebih tepatnya seminggu setelah diterima kerja, ia mencuri peralatan di galeri saat ditinggal ke acara keluarga. Usaha kerajinannya pasang surut.
“Dulu omzet bisa sampai Rp40 juta sampai Rp100 juta per bulan, ada tujuh karyawan tapi sekarang cuma dua. Sekarang sebulan Rp20 juta. Permintaan paling banyak ya alat peraga pendidikan dan mainan edukasi, bisa sampai Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Lombok dan Bali,” ceritanya.
“Saya ada hasil karya, Mahakarya Kota Raja Majapahit saya buat tahun 2013. Tapi saya belum bisa mempublikasikan karena belum mempunyai hak cipta, hak cipta saya urus sejak 2017 sampai sekarang belum bisa. Alasanya karena istana Majapahit belum ketemu sehingga tidak berani,” tuturnya.
Sehingga hingga kini, miniatur pusat Kerajaan Majapahit itu ia simpan di Galeri Sugaly Art. Miniatur Kota Raja Majapahit ini dibuat Agus menggunakan potongan dan menghabiskan 3,5 bulan untuk membuat mahakarya seluas 240 x 122 cm persegi itu.
“Bahan kayu jati kuno ini pemberian teman, dia kolektor gebyok dan mebel kuno. Kerajinan yang saya hasilkan ini saya belajar secara otodidak tapi kalau bakat seni saya ya lukis itu. Kalau harga ada, paling murah Rp6 ribu, ada. Saya pinginnya punya galeri edukasi yang besar,” pungkasnya. [tin/ted]








