Surabaya (beritajatim.com) – Suara Surabaya Media mengadakan Wawasan Series bertajuk “Merdeka dari TBC” sebagai langkah untuk berkontribusi dalam memerangi penyakit tuberkulosis (TBC) di Indonesia.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya TBC meningkat, serta tercipta kolaborasi yang lebih erat di antara berbagai pihak dalam upaya pemberantasan penyakit ini.
Acara ini dikemas dalam bentuk Focus Group Discussion yang akan digelar pada Kamis, 29 Agustus 2024, di Whiz Luxe Hotel Spazio Surabaya.
Diskusi tersebut akan dihadiri oleh sekitar 150 undangan, termasuk para pembuat kebijakan, pakar TBC, peneliti, akademisi, aktivis, komunitas penyintas, pelaku bisnis, dan media massa.
Asisten Deputi Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, dr. Nancy D. Anggraeni, M.Epid., akan hadir sebagai pembicara utama, mewakili Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P.
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) tahun 2023, terdapat 10,6 juta orang di dunia jatuh sakit dan sebanyak 1,3 juta orang meninggal karena TBC. Indonesia masih menjadi negara dengan kasus TBC tertinggi kedua di dunia.
Budi Gunadi Sadikin Menteri Kesehatan Republik Indonesia, pada Jumat (2/8/2024) mengatakan, setiap tahun satu juta orang tertular dan 136 ribu di antaranya meninggal dunia. Artinya tiap lima menit ada satu orang meninggal akibat TBC.
dr. Wiwik Kurnia Ilahi SpP, dokter spesialis paru sekaligus inisiator Poli TB MDR RSUD Ibnu Sina Gresik mengatakan salah satu penyebab tingginya angka TBC karena belum optimalnya pelaporan dan pencatatan pasien. Sedangkan proses penyembuhan TBC pun tidak mudah.
“Tahun kemarin yang ternotifikasi baru 60 persen,” tuturnya pada Sabtu (10/8/2024).
Sebagai respons terhadap kondisi ini, pemerintah telah menargetkan mengeliminasi TBC dari Indonesia pada tahun 2030.
Hal ini menjadi landasan bagi semua pihak untuk bergerak bersama menjadi lebih peka, peduli, dan ikut serta memerangi TBC di Indonesia.
Ketua Panitia Wawasan Series “Merdeka dari TBC”, Eddy Prastyo, yang juga Pemimpin Redaksi Suara Surabaya, menyatakan bahwa diskusi ini akan mengupas berbagai aspek terkait TBC, mulai dari profil penyakit, langkah pencegahan, hingga dukungan bagi penderita.
“Kami ingin menyatukan berbagai pemangku kepentingan untuk mencari solusi bersama dalam mengatasi masalah TBC. Dengan keterlibatan banyak pihak, kami berharap dapat merumuskan langkah-langkah konkret untuk menurunkan angka penderita TBC di Surabaya dan sekitarnya,” ujar Eddy.
Salah satu topik menarik yang akan dibahas dalam forum ini adalah pengalaman Dinas Kesehatan Gresik dalam menangani kasus TBC di wilayah industri yang padat. Peserta forum akan mendapatkan wawasan dari pengalaman Gresik dalam mengelola TBC di lingkungan yang memiliki karakteristik unik ini.
Selain itu, penyintas TBC juga akan berbagi kisah inspiratif mereka. Kisah-kisah tersebut diharapkan dapat menjadi sumber motivasi bagi penderita TBC lainnya dan mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap penyakit ini.
Suara Surabaya Media juga akan memberikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah berkontribusi dalam upaya eliminasi TBC di Indonesia. Puncak acara ini akan ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama oleh para peserta, yang berisi kesepakatan untuk bekerja sama dalam pencegahan dan pengendalian TBC di Surabaya.
“Kami berharap forum ini menjadi langkah awal bagi kolaborasi yang lebih erat dalam memerangi TBC. Dengan dukungan dari semua pihak, kami optimis target Indonesia bebas TBC pada tahun 2030 dapat tercapai,” tambah Eddy. (ted)
Berikut isi komitmen bersama yang akan ditandatangani semua peserta Wawasan Series “Merdeka dari TBC”:
Kami yang terlibat dalam diskusi “Wawasan Series” ini memahami dan berkomitmen:
1. Bahwa penyakit TBC adalah kenyataan medis dan sosial yang perlu mendapatkan perhatian serius bersama seluruh pemangku kepentingan.
2. Bahwa pengidap dan penyintas TBC adalah bagian masyarakat yang perlu mendapatkan pendampingan dan perlakuan setara dalam lingkungan sosial dan berkehidupan dalam negara.
3. Dengan segenap daya upaya dan kewenangan yang dimiliki, secara bersama-sama mengurangi tingkat penyebaran, terus mendampingi para pengidap juga penyintas, dan menggelorakan edukasi pada publik agar terhindar dari TBC.






