Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, atau akrab disapa Mas Rio, menarik untuk ditulis. Pertama, saya terkesan dengan gebrakannya yang mampu menumbuhkan harapan besar bagi masyarakat Situbondo. Ia tidak hanya mampu menjembatani dan mengonsolidasikan kekuatan politik di wilayah timur dan barat, tetapi juga menunjukkan langkah konkret dalam waktu relatif singkat. Dalam satu tahun kepemimpinannya, ia berhasil merevitalisasi Pendopo Pate Alos Besuki, sebuah bangunan bersejarah yang menjadi simbol kejayaan masa lalu. Capaian ini semakin memperkuat kepercayaan publik terhadap kepemimpinannya.
Namun, bukan itu yang ingin saya soroti, melainkan tentang aktivitas live TikTok-nya. Di tengah gaya kepemimpinan daerah yang masih identik dengan pidato, konferensi pers, seremoni, dan bahasa birokrasi yang kaku, kemunculan Yusuf Rio Wahyu Prayogo terasa seperti angin segar. Bukan hanya karena ia masih relatif muda, tetapi karena cara memimpin dan berkomunikasinya terasa berbeda. Lahir pada tahun 1984, Mas Rio tumbuh di era digital. Hal itu tidak hanya terlihat dari usianya, tetapi juga dari cara ia membaca zaman.
Latar belakangnya pun tidak biasa. Ia bukan produk birokrasi murni. Pernah menjadi aktivis, bergerak di dunia konsultan politik, sekaligus memiliki pengalaman sebagai pengusaha. Kombinasi ini membuat cara berpikirnya lebih luwes, tidak terlalu terikat pola lama, dan cukup berani mencoba pendekatan baru dalam pemerintahan. Bisa jadi, latar belakang inilah yang melahirkan berbagai terobosan.
Yang paling menarik, menurut saya, adalah cara ia berkomunikasi dengan masyarakat. Mas Rio cukup aktif menggunakan TikTok, terutama melalui siaran langsung. Di situ, ia tidak tampil seperti pejabat. Tidak ada bahasa formal yang berjarak. Ia lebih terlihat seperti seseorang yang sedang berbincang santai, kadang menggunakan bahasa Indonesia, kadang bercampur dengan bahasa daerah. Ringan, cair, dan terasa dekat.
Hal ini menjadi penting, karena ruang publik hari ini telah bergeser. Dengan lebih dari 125 juta pengguna TikTok di Indonesia, platform ini bukan lagi sekadar hiburan, melainkan telah menjadi ruang pertemuan, diskusi, bahkan tempat menyampaikan keluhan. Sebagai seseorang yang terbiasa membaca data sebagai konsultan politik, Mas Rio memilih masuk ke ruang tersebut, bukan memaksa publik datang ke ruang pemerintah.
Yang menarik, komunikasi di sana tidak bersifat satu arah. Warga bisa langsung bertanya, bahkan mengkritik. Ia merespons saat itu juga, tanpa jeda panjang sebagaimana lazim terjadi dalam birokrasi. Bahkan, pada saat yang sama, ia dapat langsung mengklarifikasi informasi yang dianggap kurang tepat. Komunikasi yang sebelumnya formal dan berjarak berubah menjadi percakapan yang hidup. Kadang serius, kadang diselingi canda. Gaya seperti ini terasa lebih jujur dan spontan. Ia juga cukup piawai menggunakan analogi sederhana dan storytelling, sehingga mudah dipahami.
Melalui live TikTok, publik dapat melihat ekspresi yang tidak direkayasa, cara berpikir secara real time, bahkan sisi personal yang jarang muncul dalam komunikasi formal. Hal ini membangun kedekatan emosional, bukan sekadar citra.
Beberapa momen menjadi ilustrasi menarik. Dialognya dengan berbagai lapisan masyarakat, termasuk kelompok yang selama ini berada di pinggiran ruang publik, menunjukkan upaya meruntuhkan sekat sosial dalam komunikasi kekuasaan. Misalnya ketika ia berdialog dengan LC (lady companion) atau pemandu lagu, ia tampil layaknya sosok yang merangkul semua warga tanpa melihat latar belakang sosial. Ada pula kasus live TikTok bersama Mbah Suhaimi di Desa Sopet, Kecamatan Jangkar, Situbondo. Interaksi digital tersebut berujung pada kehadiran fisik pemimpin di lapangan. Dari sebuah siaran langsung lahir kunjungan, dialog, dan pembahasan konkret terkait infrastruktur. Di sini, komunikasi tidak berhenti sebagai simbol, tetapi bergerak menjadi tindakan.
Secara konseptual, pendekatan ini dapat dibaca dalam kerangka deliberative democracy sebagaimana dikembangkan oleh Jürgen Habermas. Dalam gagasan ini, legitimasi kekuasaan tidak hanya dibangun melalui prosedur formal, tetapi juga melalui ruang dialog yang rasional dan terbuka antara negara dan warga. Live TikTok, dalam konteks ini, dapat dipahami sebagai bentuk baru dari public sphere, yaitu ruang publik digital tempat gagasan, kritik, dan aspirasi bertemu secara langsung. Meski tidak sepenuhnya ideal dalam pengertian akademik, praktik ini menunjukkan arah perubahan dalam komunikasi pemerintahan.
Namun, pendekatan ini tidak dapat dipahami sebagai spontanitas semata. Di balik kesan santai, terdapat logika strategis yang kuat. Pertama, adanya kesadaran bahwa kepercayaan publik saat ini lebih banyak dibangun melalui transparansi visual dan interaksi langsung, bukan sekadar rilis resmi. Kedua, pemanfaatan kecepatan. Dalam teori komunikasi politik modern, kecepatan respons menjadi faktor penting dalam membentuk opini publik. Mas Rio tampak memahami hal ini dengan masuk ke ruang diskursus saat isu berkembang, bukan setelahnya. Ketiga, ia memosisikan diri tidak hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai problem solver yang hadir dalam percakapan publik.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah ini sekadar gaya atau sudah menghasilkan dampak. Pada tahap awal kepemimpinannya, terlihat beberapa langkah konkret. Ia mendorong pembenahan birokrasi melalui pendekatan merit system, termasuk seleksi terbuka dan penataan jabatan. Ini merupakan langkah penting untuk menggeser praktik patronase menuju profesionalitas. Dalam perspektif good governance, langkah ini sejalan dengan prinsip akuntabilitas dan efektivitas institusi.
Di sisi lain, model komunikasi langsung yang ia bangun terbukti mempercepat respons terhadap keluhan masyarakat. Rantai birokrasi yang panjang mulai dipangkas melalui mekanisme komunikasi yang lebih langsung.
Selain itu, kehadirannya di lapangan, termasuk di wilayah terpencil, menunjukkan upaya mengurangi kesenjangan antara laporan administratif dan kondisi riil. Hal ini penting, karena dalam banyak kasus, persoalan kebijakan sering kali bukan pada perencanaan, melainkan pada distorsi informasi di lapangan. Dengan hadir langsung, ia berupaya memastikan bahwa kebijakan berbasis pada realitas, bukan sekadar data di atas kertas.
Perubahan lain yang cukup signifikan adalah transformasi pola komunikasi pemerintah. Dari yang sebelumnya bersifat satu arah, kini mulai bergerak ke arah dialogis. Publik tidak lagi hanya menjadi objek informasi, tetapi juga subjek yang dapat bertanya, mengkritik, bahkan mengawal program pemerintahan.
Dalam kajian administrasi publik, hal ini mendekati konsep participatory governance, di mana masyarakat dilibatkan secara aktif dalam proses pemerintahan, meskipun masih dalam bentuk yang sederhana.
Namun, model ini tentu tidak tanpa tantangan. Tidak semua persoalan publik dapat disederhanakan dalam komunikasi singkat. Kompleksitas kebijakan sering kali membutuhkan penjelasan yang lebih mendalam. Selain itu, keterbukaan juga berpotensi meningkatkan ekspektasi publik secara signifikan. Dalam konteks ini, konsistensi pesan dan stabilitas kebijakan menjadi krusial. Komunikasi yang cepat harus diimbangi dengan eksekusi yang tidak kalah cepat, agar tidak berhenti pada persepsi semata.
Di saat yang sama, Mas Rio juga konsisten membawa narasi integritas, tidak membohongi publik, dan tidak korupsi. Ini bukan sekadar citra, melainkan standar yang harus ia jaga sendiri.
Jika dilihat secara keseluruhan, gaya komunikasinya sejalan dengan gaya kepemimpinannya yang adaptif, berani, dan tidak terlalu terikat pada pola lama. Ia tidak hanya mengelola program, tetapi juga mengelola kepercayaan publik. Di era saat ini, keduanya tidak bisa dipisahkan.
Namun tentu saja, model seperti ini tetap memiliki risiko. Tidak semua persoalan dapat dijelaskan secara sederhana. Ekspektasi publik bisa meningkat seiring kedekatan yang terbangun. Karena komunikasinya bersifat spontan, konsistensi pesan harus benar-benar dijaga, termasuk dalam memfilter informasi yang masuk.
Yang paling penting, komunikasi yang cepat harus diimbangi dengan kerja yang juga cepat. Jika tidak, semua ini berpotensi berhenti pada kesan semata. Di titik ini, pendekatan Mas Rio menjadi menarik. Ia memahami bahwa TikTok merupakan media gratis yang efektif sebagai ruang komunikasi langsung dengan masyarakat. Namun, ia tidak berhenti di sana. Sapaan tersebut diterjemahkan menjadi kerja nyata melalui program dan kebijakan yang langsung dirasakan publik.
Pendekatan ini juga menunjukkan efisiensi anggaran yang cerdas. Biaya komunikasi formal yang biasanya besar dapat ditekan, sementara ruang interaksi tetap berjalan bahkan lebih hidup. Anggaran kemudian dapat difokuskan pada hal yang lebih substansial, seperti pembangunan infrastruktur dan peningkatan pelayanan.
Di sisi lain, live TikTok juga berfungsi sebagai alat pemetaan sosial yang murah dan efektif. Dari percakapan langsung tersebut, pemerintah dapat menangkap keluhan, membaca kebutuhan, sekaligus menguji respons publik secara real time. Dengan demikian, program yang dijalankan menjadi lebih tepat sasaran.
Karena sejatinya, menjadi kepala daerah bukan hanya soal membuat program, tetapi juga tentang kecerdasan dalam membelanjakan anggaran agar tepat sasaran dan benar-benar berdampak bagi masyarakat.
Pada akhirnya, apa yang dilakukan Mas Rio menunjukkan bahwa pemerintah dapat hadir dengan cara yang lebih dekat, cair, murah meriah, responsif, dan efisien. Ia masuk ke ruang publik yang memang sudah digunakan masyarakat. Namun, ujian sesungguhnya tetap sama, bukan pada cara berbicara, melainkan pada sejauh mana perubahan tersebut benar-benar dirasakan. Karena pada akhirnya, rakyat tidak hanya ingin diajak berdialog, tetapi juga ingin melihat hasil nyata.
Satu lagi PR penting untuk Mas Rio, kapan Sheila On 7 konser di Situbondo? Saya tunggu informasinya.
Mahathir Muhammad (Wakil Bendahara DPD Demokrat Jawa Timur & Plt. Ketua DPC Demokrat Jember)






