Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Panitia Pelaksana Pra – Muktamar Luar Biasa Nahdlatul Ulama (MLB NU), KH Mas Muhammad Maftuch menyatakan harapan, doa dan dukungannya kepada Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin Atau Gus Muhaimin sebagai Calon Ketua Umum PBNU.
“Gus Muhaimin merupakan salah satu figur politik yang telah menempuh perjalanan panjang di panggung nasional. Dengan berbagai pengalaman lebih dari 27 tahun berkiprah di dunia politik, tentu ia sudah melewati berbagai fase, dinamika, serta asam garam kekuasaan dan politik. Pengalaman tersebut menempatkannya sebagai sosok yang matang secara politik dan kaya akan pembelajaran serta pengalaman,” tutur Gus Maftuch.
Pada titik ini, muncul pandangan bahwa Gus Muhaimin telah mencapai fase puncak sebagai seorang politisi, sehingga sudah waktunya mengambil peran yang lebih reflektif dan substantif, bukan lagi elektoral, yakni dengan ‘naik pangkat’ menjadi pandito ratu melalui jalan meninggalkan politik praktis dengan kehormatan atas kemenangan dalam dunia politik yang telah beliau dapatkan.
Salah satu ikhtiar yang dapat ditempuh adalah dengan melepaskan diri dari kontestasi politik, kemudian mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dengan bekal pengalaman panjang di kancah politik nasional, Gus Muhaimin memiliki modal kepemimpinan, jaringan, serta pemahaman struktural yang kuat. Lebih dari itu, kedekatannya dengan para kiai khos NU dan basis akar rumput Nahdliyin menjadi kekuatan tersendiri untuk dapat berkhidmat secara utuh terutama dalam mengamalkan persoalan kemaslahatan umat Islam Indonesia, warga Nahdliyin dan Bangsa Indonesia tanpa terikat kepentingan kekuasaan jangka pendek.
Menurut Gus Maftuch yang juga merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Nur Muhammad Surabaya, secara historis dan genealogis, Gus Muhaimin juga memiliki ikatan kuat dengan Nahdlatul Ulama.
“Beliau merupakan cicit dari KH Bisri Syansuri, satu dari lima tokoh utama pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus pendiri Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang. Garis keturunan ini bukan sekadar identitas simbolik, melainkan bagi Gus Muhaimin memuat tanggung jawab moral dan historis untuk melanjutkan estafet perjuangan ulama dalam membimbing umat, menjaga tradisi keilmuan, dan merawat nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin,” tegasnya.
Dengan latar belakang tersebut, pengambilan peran strategis di PBNU dapat dipandang sebagai bentuk pengabdian yang selaras dengan warisan keulamaan Mbah Bisri.
“Menakhodai PBNU bukan hanya soal jabatan struktural, melainkan amanah besar untuk menjaga marwah organisasi, memperkuat posisi NU dalam kehidupan kebangsaan, serta memastikan NU tetap berpihak pada kepentingan umat dan rakyat kecil,” tukasnya.
Oleh karena itu, Gus Muhaimin ketika mencalonkan diri pada Muktamar ke-35 PBNU dapat dimaknai sebagai ‘jalan sunyi’ yang bermartabat bagi Cak Imin. Sebuah langkah transformatif dari politik kekuasaan menuju politik kebijaksanaan, dari arena kontestasi menuju ruang pengabdian, dari Ketum PKB menuju Ketum PBNU.
“Jalan ini bukanlah suatu bentuk kemunduran, melainkan lompatan peran menuju fase kepemimpinan yang lebih substansial dan berorientasi pada kemaslahatan jangka panjang Nahdlatul Ulama,” pungkasnya. [tok/aje]







4 Komentar
wah wah ojok ngawur kang…Rusak jadinya nanti Nu
Klo Bisa Ketum PBNU dari Tokok yg betul2 kharismatik, mumpuni dan bukan dari Tokoh Partai….
kurang puas mikul kardus duren 🤪
aku gak NU jika si ImiN ketua NU
muaK macem gLandangan poLifik
jeLek² in NU aja
NU ya kluarGA gusdur