Surabaya (beritajatim.com) – Provinsi Jawa Timur (Jatim) menargetkan angka prevalensi stunting turun menjadi 16 persen di tahun 2023 dalam Survei Kesehatan Indonesia (SKI).
Kepala Perwakilan BKKBN Jatim Maria Ernawati meminta kepada dinas OPD KB bersama tim pendamping keluarga untuk mengawal SKI tersebut. Dengan begitu, angka prevalensi stunting bisa ditekan.
“Sehingga angka prevalensi stunting di Jawa Timur di tahun 2023 mengalami penurunan di angka 16 persen dan 2024 turun lagi menjadi 14 persen atau di bawahnya,” ujarnya ditulis Rabu (30/8/2023).
Sementara Pretty Multihartina Kepala Pusat Kebijakan Upaya Kesehatan BKPK Kemenkes RI menjelaskan bahwa program SKI ini untuk memperoleh data dasar status kesehatan masyarakat, termasuk status gizi balita Indonesia.
Nantinya, data yang dihasilkan dari SKI akan diolah menjadi informasi untuk pembangunan kesehatan dan sebagai rancangan RPJMN 2025-2029. Sehingga, kabupaten/kota bisa memanfaatkan data SKI 2023 untuk perencanaan, pemantauan, penerapan dan evaluasi program kesehatan dengan berbasis bukti
”Hasil SKI 2023 akan dimanfaatkan oleh pelaksana program Kementerian Kesehatan, termasuk pengembangan RPJMN oleh Bappenas,” ungkap.
Ia menambahkan, dalam pelaksanaan survei, dilakukan pengumpulan data melalui wawancara, pengukuran antropometri, dan pengukuran biomedis mencakup pemeriksaan gigi dan mulut.
SKI 2023 akan dilakukan pada bulan Agustus hingga pekan pertama Oktober 2023, dengan melibatkan 586 ribu rumah tangga di 38 provinsi 514 kabupaten/kota. Sedangkan sampel survei terdiri dari kategori rumah tangga dan kategori rumah tangga Balita.
Pretty menerangkan, desain metodologi SKI adalah ‘Potong Lintang’ menggunakan kerangka sampel BPS sebanyak 34.500 blok sensus yang masing-masing blok sensus terdiri dari 10 rumah tangga sehingga ada 345.000 rumah tangga.
Pelaksanaan SKI 2023 di lapangan melibatkan ribuan tenaga pendukung. SKI memanfaatkan kader Posyandu sebanyak 34.500 orang, pengumpul data atau enumerator berlatar belakang pendidikan D3 Kesehatan sebanyak 11.522 orang, 7.500 tenaga Puskesmas, dan 3 ribu dokter gigi.
Harapannya, pada November nanti dapat dilakukan diseminasi hasil sementara pada 5 indikator utama SKI 2023, yaitu data prevalensi balita stunting, prevalensi balita wasting, persentase merokok pada usia 12-23 tahun, prevalensi obesitas usia lebih dari 18 tahun, dan persentase imunisasi dasar lengkap usia 12-23 bulan.
Prettty juga menyoroti perbedaan data antara E-PPBGM dan SSGI. Kata dia, keduanya meruapakan instrument yang berbeda baik latar belakang, konsep, substansi serta penggunaan di tingkat Masyarakat.
“E-PPGM adalah data rutin yang berasal dari pemantauan status gizi individual, SSGI adalah data survey dengan menggunakan instrument pemantauan status gizi Masyarakat,” imbuh Pretty. [ipl/kun]
BACA JUGA: Edukasi Cegah Stunting, Haibooca Bersama Dokter Adakan Talkshow Kesehatan






