Surabaya (beritajatim.com) – Upaya mewujudkan kemandirian gula nasional terus diperkuat. Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menegaskan bahwa optimalisasi peran petani tebu dan penguatan industri gula berbasis daerah menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus mendorong kemandirian energi nasional.
Hal tersebut disampaikan Ning Lia sapaan Lia Istifhama dan PT Sinergi Gula Nusantara di kantor representatif Jalan Jembatan Merah Surabaya.
Dalam kesempatan itu, Direktur Manajemen Risiko, M. Fakhrur Rozi, dibahas berbagai strategi penguatan sektor gula nasional dengan menempatkan Jawa Timur sebagai pusat kekuatan produksi.
Menurut Ning Lia, Jawa Timur memiliki posisi strategis karena menyumbang lebih dari 50 persen produksi gula nasional. Kondisi ini menjadikan provinsi tersebut sebagai episentrum industri gula yang melibatkan ekosistem luas, mulai dari petani tebu, pabrik gula, hingga dukungan kebijakan pemerintah.
“Jawa Timur ini bukan sekadar produsen, tetapi lumbung gula nasional. Maka penguatan sektor ini harus menjadi prioritas, baik dari sisi petani maupun industrinya,” ujar Ning Lia, Sabtu (4/4/2026).
Dalam diskusi tersebut, Fakhrur Rozi menjelaskan bahwa penguatan industri gula terus dilakukan melalui strategi intensifikasi, seperti penyediaan bibit unggul, penyuluhan kepada petani, serta dukungan subsidi pupuk.
Selain itu, modernisasi peralatan pengolahan tebu juga terus dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Lia menilai, keberhasilan kemandirian gula tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi, tetapi juga keberlanjutan sistem pertanian dan kesejahteraan petani tebu.
“Interaksi dengan petani menjadi kunci. Kita tidak hanya bicara produksi, tetapi juga bagaimana meningkatkan kesejahteraan mereka melalui perbaikan budidaya dan dukungan kebijakan,” tegasnya.
Selain sebagai komoditas pangan, tebu juga memiliki potensi besar sebagai sumber energi baru terbarukan melalui bioetanol. Produk turunan seperti tetes tebu (molase) dinilai strategis untuk mendukung program campuran bahan bakar, seperti E10 pada 2027 hingga E20 pada periode 2028–2030.
Menurut Lia, integrasi sektor pangan dan energi menjadi langkah strategis yang harus segera diakselerasi, terutama dengan memanfaatkan kekuatan produksi tebu di Jawa Timur.
“Orientasi ke depan bukan hanya gula, tetapi juga energi. Bioetanol menjadi peluang besar, apalagi Jawa Timur punya basis produksi tebu yang kuat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, hilirisasi industri tebu perlu diperkuat agar tidak hanya berhenti pada produksi bahan mentah, tetapi mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih luas.
“Hilirisasi penting agar sektor ini bisa menjadi bagian dari solusi energi nasional sekaligus meningkatkan ekonomi daerah,” imbuhnya.
Dalam kesempatan itu, Ning Lia menyampaikan aspek kesejahteraan pekerja di sektor tebu, mulai dari buruh tebang, petani, hingga pekerja pabrik gula. Ia menekankan pentingnya perlindungan sosial, termasuk akses terhadap jaminan kesehatan dan ketenagakerjaan.
Tak hanya itu, Ning Lia mengapresiasi peran perempuan dalam industri gula, baik sebagai petani maupun pelaku usaha, yang menunjukkan adanya dimensi pemberdayaan sosial dalam sektor ini.
“Banyak perempuan yang terlibat. Ini menunjukkan bahwa industri gula tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga pemberdayaan masyarakat,” katanya.
Menurutnya, penguatan industri tebu di Jawa Timur tidak hanya mampu menopang kebutuhan gula nasional, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) serta kesejahteraan masyarakat.
“Kalau dikelola serius, sektor gula ini bukan hanya menopang kebutuhan dalam negeri, tetapi juga bisa menjadi kekuatan ekonomi nasional,” pungkasnya. (tok/ian)






