Lumajang (beritajatim.com) – Situasi di pos pengungsian penyintas Awan Panas Guguran (APG) Gunung Semeru semakin memprihatinkan seiring menipisnya persediaan obat-obatan. Para pengungsi banyak mengeluhkan gangguan kesehatan yang terus meningkat sejak erupsi terjadi.
Keluhan kesehatan yang dominan meliputi gangguan pernapasan, pusing, dan efek trauma yang masih membekas. Kondisi ini diperparah oleh lingkungan pengungsian yang padat serta minimnya fasilitas pendukung.
Bidan Desa Supiturang, Ika Yuli Suryani, mengungkapkan bahwa warga banyak datang dengan gejala napas sesak dan nyeri otot. Ia menyebutkan kelompok lansia dan anak-anak menjadi yang paling rentan terhadap gangguan tersebut.
“Untuk keluhan gangguan pernapasan ini kebanyakan dialami lansia dan anak-anak,” ujar Ika. Ia menambahkan bahwa sebagian besar penyintas juga mengalami keluhan lain seperti pegal-pegal dan sakit kepala.
Menurutnya, rasa pusing yang dialami para pengungsi bukan hanya akibat kondisi fisik semata. Ika menjelaskan bahwa stres pascabencana turut memicu munculnya gejala tersebut.
“Banyak dari mereka kehilangan harta benda, sehingga kepanikan ikut memperburuk kondisi tubuh,” jelasnya. Ia juga menegaskan bahwa trauma emosional menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan kesehatan.
Lokasi pengungsian kini menampung lebih dari 100 warga yang terdampak langsung oleh erupsi Semeru. Mulai dari anak-anak, remaja, lansia, hingga satu ibu hamil berada dalam kondisi yang harus diawasi intensif.
Namun, keberadaan ratusan pengungsi tidak diimbangi dengan ketersediaan obat yang memadai. Pasokan obat dari puskesmas dikabarkan tidak cukup untuk mengatasi meningkatnya permintaan. “Stok dari puskesmas masih belum mampu memenuhi kebutuhan pengungsi,” tambah Ika. Ia menekankan terutama kekurangan obat sesak napas dan vitamin yang sangat dibutuhkan para penyintas.
Petugas kesehatan berharap suplai obat tambahan segera datang agar pelayanan medis tidak terganggu. Minimnya stok obat dikhawatirkan membuat kondisi kesehatan pengungsi semakin memburuk dalam beberapa hari ke depan. (ada/kun)






