Makkah (beritajatim.com) – Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mewajibkan seluruh dapur katering untuk mematuhi standar gramasi dan nutrisi ketat guna menjaga imunitas fisik jemaah haji Indonesia selama berada di Makkah.
Kebijakan nutrisi presisi ini diterapkan sebagai langkah mitigasi menghadapi tingginya aktivitas fisik dan ancaman cuaca panas ekstrem yang menyertai pelaksanaan ibadah haji 1447 H/2026 M.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, kesiapan logistik konsumsi ini dimatangkan tepat sehari sebelum kedatangan 12 kelompok terbang (kloter) gelombang perdana pada Kamis (30/4/2026). Sektor 7 di wilayah Misfalah menjadi salah satu fokus utama distribusi bagi kloter-kloter awal yang bergeser dari Madinah tersebut.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah, Ihsan Faisal, melakukan inspeksi langsung ke sejumlah penyedia katering, termasuk Dapur Ahlazat, untuk memastikan komposisi makanan benar-benar aman dan layak dikonsumsi.
“Jadi jemaah Indonesia tidak perlu khawatir, makanan sudah kita siapkan setiap hari dan menunya pun sudah sesuai dengan yang disuruh oleh para ahlinya,” ujar Ihsan Faisal saat meninjau dapur katering di Makkah.
Standar Nutrisi dan Kapasitas Produksi
Setiap menu makanan yang disajikan tidak hanya mengedepankan cita rasa lokal Nusantara, tetapi juga melalui perhitungan kalori yang presisi.
Takaran gramasi diracik oleh tim ahli gizi untuk menyokong ketahanan fisik jemaah yang akan menghadapi rangkaian ibadah padat.
Dapur Ahlazat sendiri dikonfirmasi memiliki kapasitas produksi mencapai 6.150 porsi dalam sekali proses memasak guna menjamin kelancaran distribusi tiga kali sehari.
“Takaran ataupun gramasi dalam konsumsi itu sudah sesuai dengan kebutuhan gizi, memenuhi standar minimal kebutuhan jemaah,” tegas Ihsan meyakinkan publik mengenai kualitas pangan tahun ini.
Imbauan bagi Jemaah di Tanah Air
Melihat jaminan layanan konsumsi yang komprehensif, PPIH memberikan imbauan tegas kepada jemaah haji yang masih berada di berbagai embarkasi di Indonesia, termasuk jemaah asal Jawa Timur.
Tamu Allah diminta untuk membuang kebiasaan lama membebani koper dengan beras mentah karena hal tersebut dinilai mubazir dan justru mengurangi kuota bagasi untuk barang yang lebih penting.
Negara telah menggaransi jatah makan tiga kali sehari dengan menu matang yang siap santap. Fokus jemaah diharapkan sepenuhnya tertuju pada persiapan mental dan fisik, bukan lagi pada urusan logistik dapur mandiri di hotel.
Prosedur Uji Sampel Ketat
Guna menutup celah kelalaian penyedia katering, Daker Makkah memberlakukan prosedur wajib berupa setoran uji sampel makanan sebelum logistik didistribusikan ke jemaah.
Prosedur organoleptik ini merupakan langkah pamungkas pemerintah dalam melindungi kesehatan pencernaan jemaah dari risiko makanan basi atau tidak standar.
Filter ketat ini menjadi bukti keseriusan Kemenhaj RI dalam menjaga standar layanan E-E-A-T (Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness) pada penyelenggaraan haji 2026. [ian/but]






