Banyuwangi (beritajatim.com) – Srawung Seni, atraksi yang turut menyemarakkan kemeriahan Banyuwangi Ethno Carnival. Ada 12 delegasi dari berbagai nusantara hadir di acara yang berlangsung di Gedung Seni Budaya (Gesibu) Blambangan.
Sejumlah daerah yang turut dalam atraksi Srawung Seni itu di antaranya, Kota Bontang Kalimantan Timur, Palangka Raya Kalimantan Tengah, Berau, Bandung, Magelang, Klungkung, Cirebon, Subang dan Indramayu. Mereka bergiliran menampilkan seni budayanya masing-masing.
“Srawung Seni mengajak kita untuk menikmati, memahami, dan menghargai perbedaan budaya di sekitar kita,” ungkap Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Selain itu, kata Ipuk, melalui interaksi tersebut mengajak untuk belajar lebih toleran. Termasuk saling menghormati nilai-nilai yang dimiliki setiap budaya.
“Ini bukan sekadar menerima perbedaan, tapi juga tentang merayakan keindahan dalam keragaman,” ujarnya.
Bupati Ipuk menyebut, interaksi seni lintas budaya ini akan menciptakan ruang bagi para seniman untuk saling bertukar ide dan inspirasi.
“Melalui acara ini kita bisa menciptakan karya-karya seni baru yang lebih kreatif dan inovatif,” harap Ipuk.
Atraksi Srawung Seni ini juga menjadi sejarah berpadunya antar budaya daerah. Misalnya, budaya Banyuwangi bertemu dengan budaya tetangga yakni Bali.
Seperti, tari Kecak Sri Tanjung yang dibawakan oleh delegasi Kabupaten Klungkung, Bali. Tari kolosal yang menjadi ciri khas Pulau Dewata itu tampil beda dengan sentuhan fragmen yang mengisahkan legenda Sri Tanjung dan Sidopekso yang menjadi asal-usul nama Banyuwangi.
Berikutnya, ada tari Ritus Maesa dari Surabaya, dilanjutkan tari Mahiya Dahiyang Baya dari Kalimantan Tengah, serta tari Table dari Kabupaten Indramayu.
Ada pula tari Kacapi Biola Jaipong dari Kabupaten Bandung. Disusul tari Ra Aji Jeh dari Cirebon, tari Harmony of Banuanta dari Berau, tari Kolaborasi dari Subang, dan tari Soreng dari Magelang.
Sementara delegasi dari Situbondo menyuguhkan tari Banteng Baluran, disusul tari Kancet Julod dari Bontang, dan ditutup dengan tari Corpus yang dibawakan para seniman dari Kabupaten Malang.
Penampilan para delegasi ini merupakan rangkaian dari parade kolosal BEC yang digelar, Sabtu (13/7/2024). Tahun ini, rangkaian BEC berlangsung selama empat hari, 11-14 Juli 2024.
Diawali Creative Expo yang diikuti oleh puluhan UMKM, di Lorong Bambu area Taman Blambangan. Rangkaian BEC akan dipungkasi dengan BEC Awards. [rin/beq]







1 Komentar
keren bangett, melestarikan budaya jugaa. kunjungi kami di https://walisongo.ac.id/