Mojokerto (beritajatim.com) – Kediri dikenal sebagai kota tahu, namun ternyata ada kuliner yang wajib dicoba saat melintas di kota ini yakni Soto Branggahan. Nama Branggahan merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Ngadiluwih.
Yakni perbatasan Kabupaten Kediri dengan Kabupaten Tulungagung. Di sepanjang jalan tersebut berderet warung-warung soto di kanan-kiri jalan. Mulai dari warung semi permanen, namun banyak pula warga yang menyulap rumahnya sebagai warung.
Banyaknya pedagang dan nama yang melegenda, Soto Branggahan sudah menjadi destinasi wisata khusus jika pergi ke Kediri. Soto Branggahan mempunyai beberapa ciri khas yang menjadi pembeda dengan soto-soto pada umumnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kuliner”]
Kuah, tampilannya tidak bening melainkan agak kental karena menggunakan santan kelapa namun masih tetap berwarna kuning. Campuran kuah santan dipadukan dengan bahan rempah lainnya seperti laos, kunyit, jahe, kemiri, serta bahan lainnya.
Sehingga campuran bahan tersebut menghasilkan rasa yang semakin gurih dan tentunya nikmat. Soto Branggahan hanya menggunakan daging ayam kampung yang penyajiannya dengan cara disuwir.
Suwiran daging ayam tersebut ditaburkan di atas sajian soto bersama daun seledri dan kecambah. Perbedaan lainnya, yakni pada sambal. Jika selama ini sambel merupakan campuran cabe dengan bahan lainnya, namun ini berbeda.
Sambel Soto Branggahan hanya terdiri dari cabe yang sudah dikukus. Penyajiannya, cabe sesuai selera pembeli dipencet menggunakan sendok kemudian diatasnya baru dimasukkan nasi, sayuran, daging ayam dan kuah.
Pedagang biasanya menambahkan ampela, ati, perkedel, maupun krupuk rambak kulit sebagai pelengkap. Soto Branggahan menggunakan mangkuk kecil mirip cawan. Namun saat ini, tidak banyak yang menggunakan mangkuk kecil.
Salah satu penjual Soto Branggahan, Surahmi (58) mengatakan, jika ia mulai berjualan Soto Branggahan sejak tahun 2000. Warung miliknya dengan nama Warung Soto Ayam Bu Kadir ini berdiri tepat di depan gang rumahnya atau paling selatan jika dari arah Surabaya.
“Soto Branggahan sudah ada sejak dulu, saya mulai jualan tahun 2000. Kebanyakan turut temurun tapi kalau saya, dari keluarga tidak ada yang jualan soto. Baru saya ini,” ungkapnya, Sabtu (7/5/2022).
Untuk resep, lanjut ibu tiga anak ini, ia belajar otodidak. Ia juga menggunakan mangkok ukuran standar sehingga harga semangkok Soto Branggahan di tempatnya dibandrol Rp10 ribu. “Di warung saya harganya Rp10 ribu, itu sudah termasuk minum. Ada es teh maupun kopi. Untuk penyajian menggunakan mangkok kecil hanya beberapa warung saja, harganya memang lebih murah,” katanya. [tin/kun]








