Cak Londo mengumumkan ketinggian tebing tempat panggung musik Festival Jazz Tebing di Kafe Tebing, Taman Botani Sukorambi, Kabupaten Jember, Jawa Timur, kepada ratusan penonton yang duduk manis di kursi masing-masing, Sabtu (12/8/2023) malam.
“Empat ribu centimeter,” kata pemandu acara berambut ala rasta warna pirang bernama asli Wijaya ini.
Penonton tertawa. Namun sehari sebelumnya vokalis Java Jive, Danny Sepriyatna Gumilar, mengaku gamang tampil di atas panggung tersebut. “Barusan saya melihat-lihat ke sana (panggung), agak ngeri-ngeri sedap ya. Asli bener-bener panggungnya menjorok ke tebing,” katanya disambut tawa hadirin acara ‘Meet and Greet‘ di Kafe Tebing.
“Saya mungkin sekarang akan sedikit diam. Biasanya joget-joget. Tapi melihat panggungnya sedemikian rupa kerennya, saya mungkin akan diam dulu menikmati ketebingannya dan keindahan tebingnya. Mudah-mudahan kita diberi keselamatan, amin,” kata pria yang lebih populer dengan nama Danny Spreet itu.
Namun di hadapan ratusan penonton (panitia hanya menyediakan 390 kursi) yang ingin bernostalgia, Danny segera melupakan tekadnya untuk terdiam. Panggung Festival Jazz Tebing yang digagas Febrian Ananta Kahar, seorang pebisnis tembakau cerutu di Jember, malam itu menjadi sebuah mesin waktu bagi mayoritas penonton yang rata-rata berusia kepala empat dan datang berpasangan,
Seorang perempuan paruh baya mengenang masa remajanya, saat sejumlah lelaki seusia memesan lagu-lagu hits Java Jive untuk diperdengarkan di sebuah kanal radio sembari menitipkan salam untuknya. “Tapi bukan suami saya yang sekarang lo,” katanya, tertawa kecil.
Perjalanan mesin waktu dan nostalgia malam itu dibuka dengan ‘Kau yang Terindah‘ yang segera memancing sebagian penonton untuk berdiri dari kursi masing-masing dan ikut bernyanyi. Saya tak melihat penonton remaja. Namun energi para penonton dari generasi ‘Baby Boomers‘ malam itu sama kuatnya dengan energi anak-anak muda kekinian, saat mengikuti lagu-lagu hits macam ‘Selalu untuk Selamanya’, ‘Permataku’, ‘Buah Hati’, dan ‘Gerangan Cinta’.
“Sayang tidak ada Fatur,” kata Catur Prasetiya, penonton pria di samping saya. Ia merasa ada yang hilang dengan absennya teman duet Danny bernama asli Faturachman itu.
Danny agaknya menyadari sebagian besar penonton malam itu ingin melihat penampilan Fatur. “Fatur menyampaikan salam untuk teman-teman di Jember, minta maaf tidak bisa hadir,” katanya.

Posisi Fatur digantikan Rudy Nugraha, mantan vokalis Caffeine, sebuah band musik pop rock era 1990-an. Dan Rudy tidak tampil mengecewakan. Dia rajin berkomunikasi dengan penonton, mengajak mereka tak berhenti bernyanyi.
Lagu ‘Menikahlah Denganku’ menjadi lagu yang paling dinanti malam itu. Danny memperkenalkan Kartika, seorang penyanyi perempuan, yang berjalan anggun ke atas panggung. Saya tidak tahu berapa usianya.
“Kartika waktu Java Jive ada, sudah lahir belum?” tanya Danny.
Kartika sambil tersenyum malu-malu menoleh ke arah sang ibu yang duduk di tribun penonton sisi selatan. “Mi, aku sudah lahir belum?” tanyanya. Penonton tertawa. Tidak jelas apa jawaban sang ibu. Namun Kartika menyebut kesukaannya pada musik diperkenalkan oleh ibunya.
Java Jive menutup penampilannya malam itu dengan lagu ‘Gadis Malam‘. Namun, mesin waktu dan nostalgia belum menyelesaikan perjalanannya. Masih ada Fariz Roestam Moenaf and The Anthology yang menjadi pemuncak Festival Jazz Tebing.
Fariz menyapa penonton dengan lagu ‘Penari’ dan sebuah lagu yang pernah dibawakan Vina Panduwinata, ‘Sungguh‘. Kali ini penonton lebih memilih untuk duduk manis daripada berdiri dan bergoyang. Mereka memilih khusyuk menikmati solidnya komposisi yang dimainkan Fariz dan kawan-kawan. “Kalau musisi senior yang tampil memang beda,” puji Catur.
Fariz mengaku sudah bersama The Anthology selama 17 tahun. “Kami tidak pernah berlatih,” katanya. Jember adalah satu dari sekian banyak kota yang pernah dikunjunginya pada masa awal karir.
Saya tidak tahu apakah Fariz tengah bercanda. Namun satu-satunya persoalan malam itu bukan urusan teknis bermusik, melainkan capaian suaranya yang tak lagi panjang katena usia yang menua. “Umur saya 65 tahun. Saya mohon maaf kalau ada suara yang tidak dicapai seperti waktu masih muda,” katanya.
Fariz malam itu tak hanya bermusik, namun menyampaikan sebagian perjalanan hidupnya. Ia menyebut 45 tahun karir bermusiknya sebagai sebuah dedikasi musikal. “Saya sejak kecil tidak pernah berpikir jadi dokter. Dari kecil saya ingin bermain band,” katanya.
Fariz bersyukur ayah dan ibunya mendukungnya penuh. Ibunya seorang guru piano yang percaya terhadap bakat sang anak. “Saya boleh jadi apa saja, asal jangan jadi politikus. Kata ayah saya, jadi apa saja boleh asal jangan tanggung-tanggung,” katanya tersenyum lebar.
Saya tertawa mendengarnya. Malam itu ada politisi di deretan kursi VIP.
Fariz membawakan ‘Di Antara Kata’, ‘Hasrat dan Cita’, ‘Suzie Belel’, ‘Kurnia dan Pesona’, ‘Nada Kasih’, dan ‘Terindah’ dengan sempurna. Lagu ‘Damai Hati yang Terang’ yang ditulisnya bersama Pongky ‘Jikustik’ Barata seperti menjadi lagu latar perjalanan hidup Fariz.
“Saya tiga kali kena kasus narkoba. Namun dalam masing-masing peristiwa selalu ada kehendak Allah yang terbaik. Allah menghargai proses hidup hamba-Nya,” kata Fariz.
Penonton berdiri dan mulai bergoyang begitu mendengar Fariz memainkan intro ‘Sakura‘.
Senada cinta bersemi di antara kita
Menyandang anggunnya peranan jiwa asmara
Terlanjur untuk terhenti
Di jalan yang telah tertempuh semenjak dini
Sehidup semati
Energi pertunjukan Fariz malam itu ditumpahkan dengan ‘Selangkah ke Seberang‘ dan ‘Barcelona’ yang memungkasi pertunjukan. Penonton pun memberikan aplaus panjang untuk ‘mesin waktu’ yang telah membawa mereka kembali ke kenangan puluhan tahun silam selama kurang lebih dua jam di atas tebing setinggi empat ribu centimeter. [wir]






