Lamongan (beritajatim.com) – Jumlah produksi jagung di Kecamatan Solokuro tahun 2023 mencapai 73.713 ton dengan rata-rata produktivitas sebesar 9.63 ton/ha.
Sedangkan keseluruhan di Kabupaten Lamongan mencapai 582.662 ton dengan produktivitas 8,4 ton/ha.
Data itu seperti yang dicatat di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Lamongan. Hal tersebut menjadikan Lamongan sebagai indikator ketahanan pangan nasional.
“Lamongan ini sebenarnya merupakan Indikator ketahanan pangan nasional, tidak hanya padi tapi juga jagung. Kita luas panennya rata-rata termasuk 5 besar di Provinsi Jawa Timur, 500 ribu ton lebih setiap tahunnya, bahkan 2023 produksi kita mencapai 550 ton,” kata Bupati Lamongan Yuhronur Efendi, ditulis Rabu (28/2/2024).
“Artinya Kabupaten Lamongan menunjukan bagian penting dalam produksi jagung untuk mensupplay kebutuhan nasional,” imbuhnya.
Selanjutnya dalam rangka meningkatkan produksi jagung di Lamongan pada tahun 2023, Yuhronur menjelaskan, Pemkab Lamongan telah menyalurkan bantuan benih sebanyak 4.500 kg untuk luasan lahan 300 ha, dengan stimulan pupuk sebanyak 15.000 kg.
Ditegaskan Yuhronur, penyaluran benih jagung ini sangat penting. Pasalnya jenis benih yang berkualitas menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan produksi jagung.
Oleh sebab itu, Yuhronur pun sangat mengapresiasi hadirnya benih jagung bioteknologi 212s NK Pendekar Sakti yang diluncurkan Syngenta Indonesia di Kecamatan Solokuro. Tentu hal itu menjadi langkah Syngenta dalam menjawab kebutuhan masyarakat saat ini.
“Benih menjadi komponen utama dalam budidaya tanaman yang secara nyata memberikan kontribusi dominan dalam peningkatan produksi dan produktivitas tanaman,” tandasnya.
Sementara itu, Tendi Wijiastuti selaku Ketua Tim Penilai Varietas Tanaman Pangan (TPVTP) Direktoran Perbenihan Ketahanan Pangan berkata bahwa Kementrian Pertanian pada tahun 2024 menargetkan produksi jagung sebesar 16,56 juta ton.
Target tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2023 yang produksi jagungnya mencapai 14,46 juta ton. Angka sasaran tersebut meningkat 1,15 persen.
Atas diluncurkannya NK Pendekar Sakti 212s sebagai benih jagung bioteknologi pertama yang toleran terhadap herbisida glifosat dan tahan hama penggerek batang, Tendi berharap, nantinya mampu memberikan dampak nyata terhadap produksi pertanian.
“Berbagai langkah terus diupayakan untuk mendukung pengembangan jagung hibrida melalui perakitan varietas secara konvensional maupun non konvensional melalui bioteknologi rekayasa genetika,” kata Tendi.
Dalam kesempatan sama, Kazim Hasnain selaku Direktur Syngenta Indonesia mengungkapkan tujuan peluncuran benih jenis 212s Pendekar Sakti, yakni demi mendukung misi Indonesia untuk swasembada pangan.
Mengenai lokasi peluncuran, Kazim menilai bahwa Lamongan sebagai daerah paling siap menerima produk bioteknologi dengan background sekolah lapang setahun yang lalu. Sehingga hal tersebut memantik Syngenta untuk melauncing benih 212s Pendekar Sakti di Lamongan.
“Apabila menggunakan varitas ini hasil panen bisa ditingkatkan, karena biaya pestisida lebih rendah. Ini lebih ramah dan mendorong pertanian berkelanjutan di masa depan,” ucapnya.[riq/ted]






