Surabaya (beritajatim.com) – Program SMP Terbuka di salah satu SMP negeri di Kota Surabaya telah berjalan sekitar 45 tahun lamanya. Program ini gratis, ditujukan bagi para siswa dari keluarga kurang mampu.
Layanan unit pendidikan SMP Terbuka itu pertama kali digagas oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal SMP yang telah berjalan sejak 1979 hingga saat ini. Tetapi kini, SMP Terbuka sedang menghadapi ujian berat lantaran sudah tidak adanya lagi bantuan pendidikan dari pemerintah.
Bahkan, SMP Terbuka terancam tutup pada 2021 lalu. Berkat kegigihan para guru dan tenaga pengajar, SMP Terbuka mampu bertahan sampai sekarang.
Salah satu guru SMP Terbuka yang hanya berkenan disebut dengan inisial M mengatakan, alasan masih bertahannya Kelas SMP Terbuka di sekolah lantaran kentalnya rasa empati guru dan karyawan.
Dia mengatakan, demi menanggung beban biaya pendidikan gratis para siswa di Kelas Terbuka itu, para guru sampai karyawan rela patungan setiap bulan.
“Para siswa di kelas SMP Terbuka ini benar-benar tidak mampu. Mereka berasal dari latar belakang keluarga miskin, broken home, dan lain-lain,” kata M, Selasa (4/6/2024).
“Para guru dan karyawan patungan Rp33 ribu dari uang gaji bulanan untuk biayai pendidikan gratis, membelikan buku, tas, sepatu, dan sepeda angin,” imbuhnya.
Tidak berhenti di situ, rinci M, demi mengurangi beban biaya seragam serta alat tulis gratis, para guru rela meminta seragam lusuran (bekas) dari siswa kelas IX yang sudah lulus. Bahkan, guru berkeliling mencari donatur.
“Terus, kalau ada anak-anak kelas IX baru lulus gini kita selalu berusaha mencari anak yang bajunya masih layak, kita minta, dan kalau Kelas IX lulus biasanya bajunya masih dipakai kita tunggu, ” rincinya.
M yang juga salah satu Wali Kelas di SMP Terbuka ini menjelaskan, alur pendaftaran siswa-siswi Kelas Terbuka tersebut berbeda dengan reguler. Menurut dia, para siswa bisa diterima SMP Terbuka melalui seleksi ketat, dengan turut melibatkan perangkat kelurahan maupun RT-RW.
Sementara, salah satu wakil kepala di SMP tersebut, A, menyampaikan program SMP Terbuka ini sebenarnya sangat membantu warga. Namun dia berharap pemerintah turut memberikan perhatian terhadap SMP Terbuka ini.
“Terkait kondisi guru dan sekolah SMP Terbuka yang seperti ini. Harapan kami, ya, segera ada solusi begitu. Bukan masalah mampu tidak mampu mengelola. Tapi kalau SMP Terbuka di tempat lain banyak yang tutup dan lihat kondisi ini. Tentu kami pihak sekolah akan berpikir dua kali,” tutup A.
Kendati demikian hingga berita ini ditulis, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Yusuf Masruh saat dikonfirmasi beritajatim.com lewat telepon belum memberikan jawaban. [ram/beq]






