Malang (beritajatim.com) – SMAS Katolik Cor Jesu kembali mengadakan Art Performance 2024 untuk menampilkan hasil belajar mata pelajaran seni budaya selama periode 2023/2024. Acara tahunan ini menampilkan karya kreatif para siswa dan telah menjadi agenda rutin yang ditunggu-tunggu.
Ketua Art Performance 2024, Utami Ningsih, S.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan tahun ini melibatkan penampilan dari berbagai unit pendidikan lainnya, seperti TK, SMP, SMK, SMP Pelita Kasih, SMA Budi Mulia Lawang, serta paguyuban orang tua peserta didik. Dari unit SMA sendiri, acara ini melibatkan 29 siswa seni rupa, 41 seni tari, 24 seni suara, 105 seni musik, dan 31 seni teater.
“Tema performance tahun ini adalah ‘Pupus’, yang menceritakan tentang kehidupan persahabatan tiga remaja SMA yang sedang mencari jati diri, mengejar cita-cita, dan tujuan hidup. Proses ini tidak terlepas dari pengalaman yang membentuk karakter mereka,” ungkap Utami saat pembukaan pada Jumat (7/6/2024) lalu.
Tema ‘Pupus’ menggarisbawahi perjuangan dan nilai-nilai penting dalam kehidupan seperti integritas, cinta, persahabatan, kesetiaan, dan kegigihan. Utami menjelaskan bahwa integritas mengajarkan untuk tetap jujur dan berpegang pada prinsip, cinta memberikan motivasi dan tujuan, persahabatan dan kesetiaan memperkaya perjalanan dengan dukungan emosional, dan kegigihan memastikan tidak menyerah dalam menghadapi rintangan.
“Berbagai nilai tersebut bersatu untuk membentuk karakter yang kuat dan tidak tergoyahkan dalam meraih cita-cita,” lanjut Utami. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung dan terlibat dalam suksesnya acara ini.
Kepala sekolah SMAS Katolik Cor Jesu, Ariantini, M.Pd., M.Psi., menambahkan bahwa penampilan ini adalah hasil proses belajar siswa selama setahun. Menurutnya, para siswa diberikan kebebasan untuk memilih bidang seni sesuai minat mereka di awal tahun ajaran 2023/2024. “Kami tidak memaksa siswa untuk mengikuti bidang tertentu. Mereka menunjukkan minat mereka di sini, baik itu seni tari, suara, atau bidang lainnya,” ujarnya.
Art Performance ini menjadi ajang untuk menunjukkan karya besar keluarga SMAS Katolik Cor Jesu. Siswa diajak berlatih sungguh-sungguh untuk mengembangkan bakat dan minat mereka serta ditantang untuk menjadi bintang di atas panggung. “Mereka adalah bintang tamunya, tidak membutuhkan bintang panggung lainnya. Para guru, staf, dan karyawan bekerja keras untuk menyiapkan acara ini,” tegas Ariantini.
Event ini juga berfungsi sebagai ujian praktik mata pelajaran seni budaya yang sangat penting di SMAS Katolik Cor Jesu. “Kami tidak hanya mengajarkan soal baca tulis, tetapi juga mengaktifkan otak kanan mereka. Orang yang mencintai seni akan mencintai kehidupan. Kami berharap dapat mendidik mereka sehingga mereka bisa mengapresiasi seni dan memiliki kehalusan budi,” jelasnya.
Tahun ini, Performance Art SMAS Katolik Cor Jesu telah memasuki usia ke-16. Setiap tahun, cerita yang diangkat berbeda. “Tahun lalu kami mengangkat tema tentang wabah yang pernah terjadi di kota Malang antara tahun 1910 sampai 1914. Tahun ini kami mengangkat kehidupan anak remaja dengan segala warna di sekelilingnya,” ungkapnya.
Di akhir acara, Ariantini berharap pesan dari cerita tahun ini dapat diterima dengan baik oleh pemain maupun penonton. “Terima kasih banyak kepada panitia dan semua pihak yang telah membantu kami,” tutupnya. (dan/ian)






