Probolinggo (beritajatim.com) – Pihak SMA Negeri 4 Kota Probolinggo secara tegas membantah isu perundungan (bullying) sebagai pemicu kematian seorang siswanya berinisial AFA (16) yang ditemukan meninggal dunia pada Rabu (7/1/2026). Penjelasan resmi ini diberikan untuk meredam gelombang spekulasi dan tudingan miring yang ramai diperbincangkan publik di media sosial.
Siswa kelas X tersebut ditemukan tidak bernyawa di kediamannya yang berlokasi di Kecamatan Kanigaran sekitar pukul 12.00 WIB. Kabar duka ini menyisakan tanda tanya besar terkait kondisi psikologis korban sebelum memutuskan untuk mengakhiri hidupnya secara tragis.
Perwakilan sekolah menyatakan bahwa almarhum dikenal sebagai pribadi yang supel, ceria, serta sangat aktif dalam kehidupan organisasi di sekolah. Selama enam bulan menempuh pendidikan, AFA tercatat sebagai anggota aktif Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra/FRC) dan rutin mengikuti ekstrakurikuler Pramuka.
“Almarhum itu anaknya supel, ceria, mudah bergaul, dan aktif mengikuti kegiatan,” ujar pihak sekolah saat memberikan keterangan pada Senin (12/1/2026). Tidak ada catatan pelanggaran disiplin maupun perilaku bermasalah yang pernah melibatkan almarhum selama berada di lingkungan pendidikan tersebut.
Mengenai tudingan perundungan, pihak sekolah menegaskan bahwa institusi mereka memiliki sistem pencegahan bullying yang sangat ketat dan terstruktur. SMA Negeri 4 Probolinggo merupakan satu-satunya sekolah di wilayah tersebut yang menjalankan Program Roots hasil kerja sama Kemendikbudristek dengan UNICEF.
“Kami punya Agen Perubahan Sekolah (APS) di setiap kelas untuk mendeteksi dan mencegah perundungan sejak dini,” jelas Eko Marta, perwakilan bagian kurikulum. Sistem deteksi dini ini diklaim mampu memantau interaksi antar-siswa agar tetap berada dalam koridor yang sehat dan positif.
Keterangan dari ketua kelas korban turut memperkuat pernyataan sekolah bahwa tidak pernah ditemukan indikasi praktik perundungan terhadap almarhum di dalam kelas. AFA bahkan sempat berfoto bersama teman-temannya pada hari Senin sebelum akhirnya meminta izin pulang lebih awal karena alasan sakit pada Selasa siang.
Kasatreskrim Polres Probolinggo Kota, AKP Zainal Arifin, mengungkapkan bahwa penyelidikan awal oleh pihak kepolisian juga belum mengarah pada motif perundungan. Aparat telah melakukan pemeriksaan mendalam terhadap empat orang saksi kunci yang terdiri dari pihak keluarga, pelapor, dan wali kelas.
“Dari keterangan para saksi, belum ditemukan fakta yang mengarah pada bullying. Korban justru dikenal ramah, supel, dan aktif berorganisasi,” ungkap AKP Zainal Arifin terkait hasil pemeriksaan sementara tersebut. Penyelidikan kepolisian tetap berjalan secara intensif guna mengungkap latar belakang kejadian yang menimpa pelajar tersebut secara utuh.
Polisi terus melakukan pendalaman guna memastikan tidak ada faktor lain yang terlewat dalam proses pengungkapan kasus kematian ini. [ada/beq]






