Surabaya (beritajatim.com) – SMAN 1 Driyorejo berhasil meraih gelar juara Ikor Unesa Socca Cup 2025 usai mengalahkan SMAN 1 Menganti dengan skor 2-0 pada laga final yang digelar di Lapangan Sepak Bola Unesa, Surabaya, Minggu (23/2/2025).
Dalam pertandingan itu, kedua tim tampil saling menyerang. Hanya saja, SMAN 1 Driyorejo berhasil memanfaatkan peluang dan sukses mencuri satu gol pada menit akhir babak pertama.
Sedangkan di babak kedua, SMAN 1 Menganti sempat memberikan perlawanan lewat serangan balik cepat, namun usaha tersebut masih menemui kebuntuan hingga laga berjalan cukup panas. Puncaknya, satu pemain SMAN 1 Menganti mendapatkan hadiah kartu merah.
Memanfaatkan keunggulan jumlah pemain tersebut, akhirnya SMAN 1 Driyorejo kembali berhasil menambah jumlah gol menjadi 2-0 lewat set piece tendangan bebas.
“Dengan keterbatasan kebutuhan dan pengetahuan tentang peraturan socca, tadi ada beberapa insiden yang bisa dipakai pembelajaran ke depan. Kita juga berharap, dari turnamen ini kita bisa mendapatkan prestasi lebih baik lagi,” ungkap Pelatih SMAN 1 Driyorejo, Turham.
Inisiator Turnamen Socca Tingkat SMA di Indonesia
Turnamen ini diikuti oleh sebanyak 8 tim dari SMA di seluruh Jawa Timur. Antara lain, SMAN 1 Driyorejo Gresik, SMAN 1 Menganti Gresik, SMAN 1 Cerme Gresik, SMA Barunawati Surabaya, SMAN 1 Labang Bangkalan, SMAN 1 Mojosari Mojokerto, SMAN 1 Puri Mojokerto, dan SMKN 1 Jetis Mojokerto.
Turnamen socca level SMA ini merupakan kali pertamanya digelar di Indonesia dan diinisiasi oleh Program Studi Ilmu Keolahragaan (Ikor) Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Diharapkan, turnamen ini dapat terus berkembang dan socca bisa lebih dikenal oleh masyarakat luas.
“Kami dari fakultas mengapresiasi dan mengucapkan selamat atas terselenggaranya turnamen ini. Ikor Unesa Socca Cup 2025 ini pertama kali digelar dan mudah-mudahan kita bisa melaksanakan secara rutin dan lebih besar,” ujar Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Unesa, Irmantara Subagio.
Alternatif Sepak Bola yang Tumbuh di Indonesia
Socca menjadi sebuah alternatif olahraga sepak bola, dan mulai mencuri perhatian di Indonesia. Turnamen di Unesa ini menandai langkah awal pengembangan socca di Tanah Air. Kehadiran socca diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan olahraga, khususnya di kalangan pelajar.
“Ini sebenarnya cita-cita kami supaya ada alternatif bahwa sepak bola itu tidak 11 lawan 11 saja, tetapi ada juga yang seperti socca ini,” kata Irmantara.

Ia menambahkan bahwa socca diharapkan dapat menjadi alternatif yang meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berolahraga. Socca, yang dimainkan di lapangan setengah ukuran lapangan sepak bola standar, dinilai lebih mudah diakses.
Hal ini menjadikannya pilihan yang ideal untuk sekolah-sekolah, daerah-daerah dengan keterbatasan lapangan, bahkan tanpa perlu lapangan sepak bola standar. Kemudahan akses ini diyakini dapat menyamai popularitas futsal yang awalnya juga dipandang sebelah mata, namun kini telah berkembang pesat.
Namun, Irmantara menilai pengembangan socca di Indonesia masih membutuhkan penguatan, terutama dalam hal sosialisasi. “Tidak susah dan tidak mudah sebenarnya, tinggal bagaimana kita sosialisasi bahwa ada olahraga alternatif selain sepak bola,” katanya.
Kemudian kompetisi. Menurut Irmantara, kompetisi menjadi kunci dalam pengembangan socca di Indonesia. Ia menekankan bahwa Socca merupakan olahraga yang berdiri sendiri, tidak berada di bawah naungan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).
Unesa sendiri berpotensi menjadi pusat kegiatan Socca di Indonesia. Ke depan, Irmantara berharap dapat memperluas partisipasi, bahkan hingga membentuk liga Socca di tingkat SMA, SMP, dan masyarakat umum.
“Saya terima kasih kepada para peserta. Saat ini mungkin terbatas 8 tim. Barangkali ke depan nanti kita bisa perbanyak, dan mungkin bisa kita buatkan liga supaya tidak tersebar di SMA saja tetapi di SMP atau di masyarakat umum,” tutupnya. [ipl/but]






