Surabaya (beritajatim.com) – Tiga bulan penuh Ilham Romadhona hidup berdampingan dengan tulisan. Kadang begadang sampai larut malam, kadang bangun tidur langsung corat-coret, bahkan di sela jam sekolah pun ia sempatkan menulis. Semua itu demi satu karya, buku berjudul Langit Tanpa Bintang.
Siswa SMK Dr. Soetomo (Smekdor) Surabaya jurusan Produksi Siaran Program Televisi (PSPT) itu tak main-main. Bukunya yang setebal 149 halaman terbit dengan ISBN resmi. Artinya, karya itu bukan sekadar catatan iseng, melainkan sudah tercatat secara internasional, bahkan kini masuk koleksi Perpustakaan Kota Surabaya.
“Awalnya lihat kakak tingkat yang bisa nerbitin buku. Dari situ kepikiran, kok saya nggak coba juga?” kata Ilham, ditemui di sekolahnya, Selasa (19/8/2025).
Uniknya, biaya penerbitan sebagian ditopang dari hasil kerja freelance Ilham sebagai fotografer. Dari kamera, ia menghidupi mimpinya menulis.
“Sulitnya itu kadang bingung. Makanya, di sekolah saya sempatkan menulis,” tambahnya.
Buku yang ia sebut sebagai ‘kumpulan potongan rasa’ ini berbicara tentang kehilangan, hadir yang tak utuh, hingga bertahan dalam sunyi. “Makna Langit Tanpa Bintang itu kayak ada tapi nggak ada,” jelasnya.
Harga buku dibanderol Rp79 ribu, sedang diskon 20 persen, dengan cetakan perdana sekitar 20 eksemplar.
Langkah Ilham mendapat dukungan penuh dari keluarga dan sekolah. Kepala SMK Dr. Soetomo, Juliantono Hadi, menyebut literasi di Smekdor tidak berhenti pada membaca, tapi juga berkarya.
“Sejak 2016 sudah ada karya siswa yang dibukukan. Ada kumpulan cerpen, ada juga yang awalnya nulis di Wattpad lalu dicetak. Yang terbaru ini ya karya Ilham, sudah ISBN. Jadi kami dukung, bahkan nanti dibeli banyak untuk perpustakaan sekolah,” jelasnya.
Sekolah juga memiliki komunitas literasi beranggotakan 25 siswa untuk diskusi penulisan. Bahkan jurusan film di Smekdor menyiapkan ruang bagi ide-ide siswa untuk diadaptasi ke layar.
Ilham sendiri pernah ikut lomba menulis dan dua kali lolos seleksi. Dari situ ia makin yakin dengan pilihannya. “Gen Z juga bisa berkarya. Ini buktinya,” katanya mantap.
Setelah lulus, ia berencana menulis lagi, kali ini dalam bentuk cerita panjang.
Di tengah derasnya arus digital, Ilham memilih jalan berbeda. Dari freelance dan begadang, ia berhasil melahirkan buku pertamanya.
Langit Tanpa Bintang memang mungkin tidak akan langsung menjadi best seller. Tapi bukankah setiap langit, meski tanpa bintang, tetap punya ruang untuk bermimpi? [ipl/ian]






