Surabaya (beritajatim.com) – Film horor di Indonesia memang tampak sedang menjamur, adapun salah satu yang akan segera tayang ialah film “Munkar”.
“Munkar” dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 7 Februari 2024. Bagi penggemar film horor dan yang peduli dengan isu bullying, ini mungkin menjadi kesempatan untuk menyaksikan karya yang tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan pesan moral yang penting.
Sinopsis Munkar
Film “Munkar” merupakan kisah yang menegangkan tentang kehidupan seorang santriwati bernama Herlina yang menjadi korban bullying di pesantren. Dengan latar belakang urban legend di Lamongan, Jawa Timur, film ini mencoba menggambarkan secara realistis perjuangan Herlina dalam menghadapi perlakuan buruk dari teman-temannya.
Herlina, yang baru saja masuk ke pesantren, mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan barunya. Akibat sering melanggar aturan, dia mendapatkan hukuman satu kelas. Namun, ironisnya, tiga teman sekelasnya, yaitu Obi dan dua temannya, turut mendapat hukuman meskipun bukan kesalahan mereka. Hal ini menjadi pemicu timbulnya tindakan bullying terhadap Herlina.
Perlakuan buruk yang Herlina terima dari ketiga temannya membuatnya mengalami trauma dan bahkan harus dilarikan ke rumah sakit. Kejadian ini menjadi sorotan dalam film “Munkar,” memperlihatkan dampak negatif dari perilaku bullying terhadap kesehatan mental dan fisik seseorang, terutama dalam konteks pesantren yang seharusnya menjadi tempat pendidikan dan spiritualitas.
Namun, plot film semakin menarik ketika Herlina kembali ke pesantren setelah keluar dari rumah sakit. Muncul pertanyaan misterius, apakah dia kembali dengan tubuh sebenarnya ataukah ada sosok lain yang menghuni dalam dirinya? Film ini menggabungkan elemen horor dengan tema serius mengenai dampak psikologis dan fisik bullying.
Adapun melalui film “Munkar” ini, terdapat pesan sosial mengenai dampak buruk dari perilaku bullying. Dengan mengambil inspirasi dari kisah nyata yang terjadi di Lamongan, Jawa Timur, film ini berpotensi menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap masalah bullying, terutama di lingkungan pendidikan.
Pemeran utama, Adhisty Zara, yang sebelumnya lebih dikenal dalam peran-peran non-horor, tampil sebagai santriwati Herlina dengan penuh dedikasi. Peran ini menjadi pengalaman baru baginya dalam dunia horor, dan para penonton dapat menantikan bagaimana aktingnya mampu membangun ketegangan dan suasana misterius dalam film ini.
Dengan nuansa horor yang menghantui, film ini dapat menjadi pilihan menarik bagi mereka yang mencari pengalaman sinematik yang menggugah pikiran. (fyi)






