Jember (beritajatim.com) – Sebagian masyarakat sebenarnya sudah memahami langkah-langkah penyelamatan diri ketika terjadi bencana, khususnya di pesisir. Namun simulasi praktik masih minim.
Pelaksana Tugas Deputi Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pangarso Suryotomo ingat percakapannya dengan salah satu warga di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, soal gempa dan tsunami di sana.
“Kok bisa selamat waktu kena tsunami? ‘Karena kami manjat pohon. Kami memmeluk pohon dan sebagainya,” kata Pangarso, usai membuka acara konsolidasi dan penguatan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Wilayah Badan Koordinator Wilayah Jember, Jawa Timur, di kantor Bakorwil Jember, Rabu (20/5/2026).
Warga juga sudah tahu jakur evakuasi jika terjadi gempa tsunami, termasuk memperhitungkan jarak dan wakru. “Kalau lari 10 menit, kami selamat,” kata Pangarso menirukan pernyataan warga.
Kendati memahami dan mengetahui evakuasi, warga jarang atau bahkan tidak pernah berlatih simulasi. “Nah, ini adalah bagian yang kita edukasi ke masyarakat, bagaimana masyarakat evakuasinya dengan memitigasi kalau evakuasi enggak nyampai sana, sudah ada tempat perlindungan yang lebih dekat,” kata Pangarso.
BNPB menjadikan Hari Kesiapasiagaan Bencana pada 26 April sebagai momentum latihan secara mandiri. “Cuma kadang masyarakat masih enggan,” kata Pangarso.
Pangarso mengingatkan kesiapsiagaan harus senantiasa dilatih. “Paham risiko, tahu latihan, dan berkoordinasi,” katanya.
Kelompok Desa Tanggap Bencana (Destana) di setiap desa diharapkan memutakhirkan rencana aksi rencana aksi evakuasi, terutama jalur evakuasi.
“Saya juga tersampaikan bagaimana kalau pembangunan desa itu juga melihat jalur-jalur evakuasi. Bagaimana kalau dalam pembangunan desa, jalur menuju titik-titik evakuasi diperbaiki, seperti warga kita di sekitar Gunung Merapi. Yang diperbaiki jalannya dan juga jalur evakuasi,” kata Pangarso. [wir/suf]






