Pasuruan (beritajatim.com) – Banjir Beji Pasuruan kian parah pada 2026 setelah luapan Sungai Wirati terus meningkat dan merendam ribuan rumah warga. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap bahwa kondisi ini dipicu oleh penyempitan dan pendangkalan sungai, serta posisi permukiman yang lebih rendah dari permukaan air.
Temuan tersebut disampaikan langsung Kepala BNPB, Suharyanto, saat meninjau lokasi banjir di Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jumat (27/3/2026). Ia menyoroti kondisi Sungai Wirati yang semakin tidak mampu menampung debit air, sehingga meluap ke permukiman warga.
“Sungai Wirati itu setiap tahun meluap, tapi tadi kita lihat badan sungainya memang sudah relatif menyempit dan dangkal,” ungkapnya.
Selain faktor sungai, BNPB juga menemukan persoalan mendasar pada tata ruang wilayah. Elevasi permukiman warga di Desa Kedungringin dan sekitarnya kini berada lebih rendah dibandingkan permukaan sungai, sehingga genangan sulit dihindari saat debit air meningkat.
Data di lapangan menunjukkan dampak banjir tahun ini meningkat signifikan. Sekitar 6.000 kepala keluarga (KK) terdampak, dengan sebagian besar warga memilih bertahan di lantai dua rumah mereka.
Untuk penanganan jangka pendek, BNPB memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. Tim gabungan terus berpatroli menggunakan perahu karet untuk mendistribusikan makanan siap saji dan air bersih secara merata ke wilayah terdampak.
Di sisi lain, pemerintah mulai menyiapkan langkah strategis jangka panjang. BNPB akan berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum guna merumuskan rekayasa aliran Sungai Wirati agar lebih efektif dalam menampung debit air.
“Langkah jangka panjangnya, kami akan berkoordinasi dengan Kementerian PU untuk menentukan langkah-langkah lanjutan termasuk rekayasa sungai,” jelasnya.
Opsi relokasi warga dari kawasan rawan seperti bekas aliran sungai atau Kalimati dinilai tidak mudah, mengingat jumlah penduduk yang cukup besar telah menetap di wilayah tersebut.
Sebagai alternatif, pemerintah lebih memprioritaskan normalisasi sungai secara menyeluruh dan penguatan tanggul guna mencegah luapan air ke daratan.
Sinergi antara Pemerintah Kabupaten Pasuruan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan pemerintah pusat diharapkan mampu menghasilkan solusi konkret sebelum musim hujan berikutnya, sekaligus menekan dampak banjir yang selama ini menjadi ancaman tahunan di wilayah Beji. [ada/beq]






