Ringkasan Berita:
- 18 siswa TK di Jember keracunan usai mengonsumsi MBG dari SPPG di Kaliwates. Beberapa anak dirawat di rumah sakit dan puskesmas. Satgas minta penutupan SPPG terkait.
- Sekretaris Komisi C DPRD Jember minta evaluasi dan pemeriksaan SPPG terkait, menekankan keselamatan anak lebih utama daripada sekadar menu MBG.
- Dapur MBG di Sumbersari terbakar akibat kebocoran gas pada oven pengering makanan. Tidak ada korban, pengelola disarankan memperbaiki instalasi gas.
Jember (beritajatim.com) – Ada dua insiden dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Belasan orang siswa keracunan dan sebuah dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) terbakar.
Insiden keracunan terjadi, Rabu (20/5/2026). Ketua Satuan Tugas Makan Bergizi Gratis dan Pejabat Sekretaris Daerah Jember Achmad Imam Fauzi mengatakan,18 orang siswa taman kanak-kanak yang berusia empat sampai tujuh tahun keracunan, setelah mengonsumsi MBG yang disajikan sebuah SPPG di Kecamatam Kaliwates.
Mereka adalah siswa Roudlotul Tulam, TK Hidayatullah Muttabi’in, dan PAUD Aster 29. “Empat orang anak opname di Rumah Sakit Kaliwates, seorang anak dirawat di Puskesmas Kaliwates, seorang anak di Puskesmas Jember Kidul, dan lainnya dirawat jalan,” kata Fauzi, Kamis (21/5/2026) pagi.
Mereka mengalami keracunan diduga setelah mengonsumsi MBG dari SPPG di Jalan Teratai. “Kami akan tegas meminta penutupan SPPG tersebut,” kata Fauzi.
Menurut Fauzi, sejumlah keluhan dari warga soal SPPG tersebut sebelumnya masuk ke kanal Wadul Guse. “Satgas lewat jaringan institusi di dalamnya akan proaktif turun mengecek kondisi dapur di kecamatan,” katanya.
Atas nama Bupati Jember, Fauzi menyesalkan kejadian tersebut dan meminta maaf kepada korban dan orang tua korban. “Semoga kejadian ini adalah kejadian terakhir terjadi di Kabupaten Jember,” katanya.
Sekretaris Komisi C DPRD Jember David Handoko Seto prihatin dengan kejadian tersebut. “Saat berangkat sekolah, anak-anak itu baik-baik saja. Jam sembilan, MBG diantar ke sekolah dan mereka santap. Jam 10 mulai ada tanda-tanda, ada yang lemas dan pucat. Sesampai di rumah, anak-anak tersebut muntah dan diare,” katanya.
Geram, David meminta SPPG tersebut dievaluasi. “Kalau perlu dicabut saja izinnya. Yang harus dipikirkan bukan hanya memberi menu MBG, tapi keselamatan anak-anak jauh lebih utama,” katanya.
Semua yang terlibat dan bertanggung jawab di SPPG itu, menurut David, harus diperiksa. “Termasuk kelayakan operasionalnya. Dan ini menjadi warning kepada semua SPPG di Jember untuk tidak main-main dengan kualitas menu MBG. Kita harus menjunjung tinggi keselamatan,” katanya.
Sementara itu, sebuah dapur MBG di di Jalan Semeru, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, terbakar, Rabu (20/5/2026) siang. Diduga kebakaran terjadi karena kebocoran instalasi jaringan gas pada ruang oven pengering wadah makanan yang memiliki ukuran lima meter kali tiga meter.
Kebakaran terjadi sekitar pukul 14.56 WIB. “Ada saluran pipa pada pembangunan awal yang bertujuan untuk pengering ompreng, tapi tidak jadi digunakan dan ditutup hanya menggunakan kran biasa.” kata Sony Ari Wicaksono, anggota Unit Pelaksana Teknis Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Regu B Pemkab Jember.
Kemungkinan kran itu tersenggol sehingga gas itu keluar saat pengering beroperasi, sehingga terjadilah kebakaran. “Tidak ada kendala pemadaman api,” kata Sony.
Sony menyarankan pengelola SPPG untuk membenahi saluran tersebut sebelum kembali beroperasi. “Karena gas lan berbahaya sekali kalau bocor lagi,” katanya. [wir/suf]






