Hanya para mantan yang bisa hadirkan mimpi terburuk Persebaya selama berpartisipasi di Liga 1 sejak 2018. Ricky Kambuaya dan Ahmad Nufiandani memang tak melakukan selebrasi saat mencetak gol masing-masing pada menit 40 dan 69. Ricky juga tak berlebihan merayakan gol Alex pada menit 72 yang diawali oleh operannya.
Namun bagi Bonek semua adegan di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Selasa (16/4/2024), bagai mimpi buruk yang lebih seram daripada adegan film horor ‘Siksa Kubur’. Kekalahan 0-3 dari Dewa United pada pekan ke-31 Liga 1 Musim 2023-2024 bisa berujung degradasi, jika Persebaya tak segera bangkit di tiga pertandingan sisa.
Berdasarkan kompetisi musim-musim sebelumnya, sebuah klub bisa dikatakan aman dari degradasi jika sudah melampaui angka 40. Persebaya saat ini baru mengantongi 39 angka. Duduk di posisi 12 dari 18 peserta, anak asuh Paul Munster ini terpaut delapan angka dari Arema FC yang berada di peringkat 16.
Jika memenangi tiga pertandingan sisa, poin maksimal Arema hanya 40. Dengan tren tiga kali kekalahan berturut-turut, susah bagi Arema untuk menyapu bersih dua pertandingan tandang menghadapi Borneo dan Madura United serta pertandingan kandang melawan PSM Makassar.
Namun menjelang akhir musim, anomali terjadi di Liga 1. Kemenangan 3-2 tim juru kunci Persikabo atas Bali United, kekalahan telak 0-7 Persik di kandang Bhayangkara FC, dan kekalahan 0-4 pemuncak klasemen Borneo FC di kandang sendiri saat menghadapi Madura United, sudah cukup menggambarkan anomali itu.
Singkat kata: apapun bisa terjadi di Liga 1.
Sementara Persebaya menghadapi tiga lawan yang tak mudah dan membutuhkan kemenangan untuk bisa mengamankan posisi empat besar. Bajul Ijo harus bertandang ke Bandung menghadapi Persib, Sabtu (20/4/2024) sebelum menjamu Bali United dan Persik Kediri di Gelora Bung Tomo.
Tidak ada opsi kalah dalam tiga pertandingan tersebut. Minimal harus ada satu pertandingan yang dimenangi dengan skor berapapun.
Masalahnya, lini gedor Persebaya sangat buruk. Mencetak 30 gol dari 31 pertandingan, Persebaya adalah tim dengan lini serang paling tidak produktif di antara 18 kontestan Liga 1 musim ini. Produktivitas gol Persebaya lebih jelek dibanding tiga tim penghuni zona degradasi: Arema (37 gol), Bhayangkara (36), dan Persikabo (40).
Lini serang Persebaya hancur lebur dibandingkan musim-musim sebelumnya yang memang cenderung menurun: 60 gol (musim 2018), 57 gol (musim 2019), 56 gol (musim 2021-22), 52 gol (2022-23).
Gelora Bung Tomo juga tak selamanya angker bagi tim lawan. Musim ini Persebaya sudah tiga kali kalah di kandang sendiri. Kekalahan 0-3 dari Dewa adalah kekalahan terbesar Persebaya sejak Liga 1 2018.
Sebelumnya kekalahan terbesar Persebaya di kandang dialami dari Persipura dengan skor 0-2 pada 6 Februari 2022. Itu pun pertandingan itu digelar di Stadion I Gusti Ngurah Rai, Bali, karena kebijakan sentralisasi lokasi pertandingan.
Pertandingan berikutnya bisa menjadi mimpi buruk lainnya bagi Persebaya. Ada seorang mantan lagi yang berpotensi menghadirkan mimpi buruk itu: David da Silva. Dia sudah mencetak 22 gol sejauh ini, dan dua gol di antaranya dicetaknya di Gelora Bung Tomo, Sabtu (7/10/2023), saat Persib mengalahkan Persebaya 3-2.
Jika gol Da Silva benar-benar kembali menembus gawang Persebaya, mungkin Azrul Ananda perlu menyewa Joko Anwar untuk menyutradarai film thriller dokumenter sepak bola berjudul: SIKSA MANTAN. [wir]






